Senin, 09 Oktober 2023

pengembangan sistem informasi akuntansi untuk Perusahaan jasa bidang Asuransi (perusahaan baru berjalan)

 Langkah-langkah yang perlu diterapkan untuk pengembangan SIA pada perusahaan baru berjalan

(Asuransi) adalah :

 Mengumpulkan bahan – bahan baik melalui referensi, perpustakaan maupun dari perusahaan –

perusahaan asuransi sendiri.

 Memberikan pedoman dan informasi produk knowledge yang tepat kepada masyarakat / calon

nasabah / pengguna asuransi

 Melakukan promosi pemasaran melalui media cetak, website, forum , blog, dan media elektronik

lainnya.

 Mengelola data yang masuk /atau diterima

Adapun untuk mengelola suatu data /atau laporan keuangan yang diperlukan oleh perusahaan jasa

Asuransi baru, bisa dilakukan dengan cara membuat sistem software aplikasi berbasis komputer

“Computer Based Information Sistem (CBIS)”


Dalam CBIS terdapat sistem informasi jasa Asuransi dengan beberapa modul terintegrasi yaitu :

  • Modul polis (policy) 
  • Modul tertanggung
  • Modul premi (premium)
  • Modul uang pertanggungan
  • Modul pemegang polis (insured) 
  • Modul nilai tunai
  • Modul agen / filed underwriter / konsultan 
  • Modul masa leluasa
  • Modul ahli waris 
  • Modul premi batal

Contoh DFD SIA Jasa Asuransi





Sistem Informasi Akuntansi

 1. Apakah yang dimaksud dengan analisis sistem ?

Seseorang yang bertanggung jawab atas penelitian, perencanaan, pengkoordinasian, dan merekomendasikan

pemilihan perangkat lunak dan sistem yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi bisnis atau

perusahaan. Seorang analisis sistem harus memiliki setidaknya empat keahlian:

 analisis,

 teknis,

 manajerial,

 dan interpersonal (berkomunikasi dengan orang lain).

Adapun tugas yang dilakukan oleh seorang analisis sistem adalah :

 Berinteraksi dengan pelanggan untuk memahami kebutuhan sistem yang akan di gunakan

 Berinteraksi dengan desainer untuk mengemukakan antar muka yang diinginkan atas suatu perangkat

lunak

 Berinteraksi ataupun memandu programer dalam proses pengembangan sistem agar tetap berada pada

jalurnya

 Melakukan pengujian sistem baik dengan data sampel atau data sesungguhnya untuk membantu para

penguji

 Mengimplementasikan sistem baru / sistem usulan yang akan digunakan perusahaan

 Menyiapkan dokumentasi berkualitas


2. Apakah yang dimaksud dengan desain sistem ?

Desain sistem merupakan tahap setelah analisis sistem dari siklus pengembangan sistem yang mendefinisikan

dari kebutuhan-kebutuhan fungsional, persiapan untuk rancang bangun implementasi, menggambarkan

bagaimana suatu sistem dibentuk berupa penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa atau pengaturan

dari beberapa elemen yang terpisah kedalam suatu kesatuan yang utuh dan berfungsi, dari komponen-

komponen perangkat lunak dan perangkat keras dari suatu sistem.

3. Apakah yang dimaksud dengan implementasi sistem ?

Implementasi sistem merupakan tahap penerapan sistem yang akan dilakukan jika sistem disetujui termasuk

program yang telah dibuat pada tahap perancangan sistem agar siap untuk dioperasikan.


4. Sebutkan dan jelaskan pengembangan sistem ?

Pengembangan sistem merupakan penyusunan suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama

secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada

Adapun langkah-langkah dalam pengembangan sistem yaitu :

1) Pengumpulan data / assetment

 Standard Operasional Procedure (SOP)

 Struktur Organisasi

 Kick Of Meeting


Nama : Sudarwanto Mata Kuliah : Sistem Informasi Akuntansi

NIM : 2015120344 Nama Dosen : Heri Iswanto,S.Kom,MM

Semester / Ruang : 06SAKE003 / 608 Nomor Absen : 29 (Dua puluh sembilan)

Program Studi : S1 Akuntansi Tugas E-Learning : Pertemuan 17

2) Dokumen SRS – BPO

Software requirement system – businees proses owner

 Dokumen persyaratan pengembangan

 Batasan pengembangan

 DFD

 Flow chart

3) UAT – BPO

User acceptence test

4) SRS – Development

 Flow chart system

 Flow chart tata letak

 DFD

5) Development – programmer

Program (coding)

6) UAT – User

User acceptance test

7) Edukasi dan training


Atribut pada Data Flow Diagram

MANAJEMEN MODAL KERJA 2

 Ada dua pengertian modal kerja, yang pertama gross working capital, adalah keseluruhan aktiva lancar, sementara pengertian net working capital adalah kelebihan ktiva lancar di atas utang lancar.

Manajemen modal yang efektif menjadi sangat penting untuk pertumbuhan

kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan

modal kerja untuk memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar

kemungkinannya akan kehilangan pendapatan dan keuntungan. Perusahaan yang

tidak memiliki modal kerja yang cukup, tidak dapat membayar kewajiban jangka

pendek tepat pada waktunya dan akan menghadapi masalah likuiditas. Investasi modal

kerja merupakan proses terus-menerus selama perusahaan beroperasi, yang

dipengaruhi oleh:

1. Tingkat investasi aktiva lancar perusahaan

2. Proporsi utang jangka pendek yang digunakan

3. Tingkat investasi pada setiap jenis aktiva lancar

4. Sumber dana yang spesifik dan komposisi utang lancar yang harus dipertahankan

Semakin lama periode antara saat pengeluaran kas sampai penerimaan kembali,

maka kebutuhan modal kerja akan semakin besar. Periode itu bisa terjadi pembayaran

di muka bahan baku --- penerimaan bahan baku --- bahan baku disimpan --- proses

produksi --- disimpan sebelum dijual --- dijual secara kredit --- penerimaan kas kembali.

Apabila rangkaian tersebut semakin panjang maka kebutuhan modal kerja menjadi

semakin besar. Dengan demikian besar kecilnya modal kerja merupakan fungsi dari

beberapa faktor seperti:

1. Jenis produk yang dibuat

2. Jangka waktu siklus operasi

3. Tingkat penjualan, semakin tinggi tingkat penjualan maka kebutuhan investasi

pada persediaan juga akan semakin besar

4. Kebijakan persediaan


5. Kebijakan penjualan kredit Seberapa jauh efisiensi manajemen aktiva lancer


Kebutuhan dana perusahaan meliputi investasi aktiva lancar dan aktiva tetap. Aktiva

lancar itu sendiri dapat dibagi menjadi dua kategori: (1) aktiva lancar permanen dan (2)

aktiva lancar yang berfluktuasi. Fluktuasi aktiva lancar adalah dipengaruhi oleh faktor

musiman atau siklus permintaan. Sebagai contoh, perusahaan investasi persediaan

dalam jumlah besar pada masa puncak penjualan, sebaliknya akan pada masa-masa

sepi.

Terdapat tiga alternatif pemenuhan kebutuhan dana dalam kaitannya dengan aktiva

lancar: (1) matching approach, akan membiayai investasi aktiva tetap dan aktiva lancar

permanen dengan sumber dana jangka panjang, baik itu utang jangka panjang

maupun modal sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari risiko perusahaan

apabila sumber dana yang digunakan adalah sumber dana jangka pendek, maka pada

saat jatuh tempo perusahaan tidak dapat membayar kembali, (2) conservative

approach, akan membiayai investasi aktiva tetap dan aktiva lancar permanen serta

sebagian aktiva lancar yang berfluktuasi dengan utang jangka panjang atau modal

sendiri. Proporsi utang jangka pendek dengan demikian akan lebih kecil dibandingkan

dengan matching approach, dan (3) aggressive approach, adalah pendekatan dalam

pemenuhan kebutuhan dana dengan menggunakan proporsi utang jangka pendek

yang lebih besar, jika dibandingkan dengan pendekatan yang lain.


Penentuan Kebutuhan Modal Kerja


Terdapat beberapa metode yang biasa dipergunakan untuk menentukan

besarnya kebutuhan modal kerja seperti (1) metode keterikatan dana, (2) metode

perputaran modal kerja dan (3) metode aliran kas.

1. Metode keterikatan dana

2. Metode perputaran modal kerja

3. Metode perputaran modal kerja ini berbeda dengan metode keterikatan

dana, karena metode ini menentukan kebutuhan modal kerja dengan

memperhatikan perputaran elemen pembentuk modal kerja itu sendiri

seperti kas, piutang dan persediaan


1.4. Anjak Piutang (Factoring)


Anjak piutang dapat didefinisikan sebagai suatu kontrak di mana

perusahaan anjak piutang paling tidak menyediakan jasa-jasa pembiayaan, jasa


pembukuan (maintenance of accounts), jasa penagihan piutang dan jasa

perlindungan risiko kredit dan untuk itu klien berkewajiban kepada perusahaan

anjak piutang untuk menjual atau menjaminkan piutang yang berasal dari

penjualan produk. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan anjak

piutang meliputi antara lain:

1. Pembelian dan atau pengalihan piutang jangka pendek dari transaksi

perdagangan.

2. Administrasi penjualan kredit.

3. Penagihan piutang perusahaan klien.


Pihak-pihak yang Terlibat Dalam Anjak Piutang


Tiga partisipan utama dalam transaksi anjak piutang adalah 1. Perusahaan

anjak piutang atau factor adalah perusahaan yang menawarkan jasa anjak

piutang. 2. Klien adalah pihak yang menggunakan jasa perusahaan anjak

piutang. Sedangkan 3. nasabah adalah pihak-pihak yang mengadakan transaksi

dengan klien.

Jenis Anjak Piutang

Beberapa jenis anjak piutang yang biasanya ditawarkan oleh perusahaan anjak

piutang antara lain:

1. Fungsi service factoring, yaitu suatu bentuk jasa yang meliputi seluruh jenis

jasa anjak piutang baik yang beripa jasa pembiayaan maupun jasa

nonpembiayaan.

2. Recourse factoring, yaitu suatu bentuk pelayanan yang meliputi seluruh

bentuk jasa anjak piutang kecuali jasa perlindungan risiko kredit.

3. Bulk factoring, yaitu jasa anjak piutang hanya meliputi jasa pembiayaan dan

pemberian jatuh tempo tagihan kepada nasabah. Bentuk-bentuk jasa lainnya

seperti perlindungan risiko kredit, administrasi penjualan ataupun penagihan

tidak diperlukan.

4. Maturity factoring, yaitu suatu bentuk jasa anjak piutang di mana klien tidak

menerima pembayaran di muka dari perusahaan anjak piutang

5. Agency factoring, yaitu bentuk anjak piutang yang merupakan perluasan dari

bulk factoring, di mana terjadi penyerahan seluruh penjualan (piutang klien)

kepada perusahaan anjak piutang atas dasar notifikasi.

menghitung Perputaran Persediaan

 1. Jenis industry dan skala perusahaan jelas mempengaruhi besar kecilnya aktiva

lancar, perusahaan kecil cenderung memiliki modal kerja yang lebih tinggi

dibandingkan dengan perusahaan besar. Hal ini terjadi mungkin karena perusahaan

besar menjadi semakin intensif menggunakan modal, mempunyai skala ekonomi

atau aliran kas yang relative stabil, dan mempunyain akses yang lebih baik ke pasar

uang, dan aktifitas perusahaan, semakin tinggi penjualan akan semakin besar pula

aktiva lancar perusahaan. Dan begitupun sebaliknya factor yang sama juga

mempengaruhi utang lancaranya, manajemen yang agresif akan menggunakan

utang yang lebih tinggi karena akan memberikan profitabilitas yang tinggi , meskipun

resiko juga akan semakin meningkat

2. Pendekatan agresif disatu sisi akan sangat menguntungkan perusahaan karena

akan lebih cepat meningkatkan jumlah aktiva lancarnya tetapi berkonsekuensi pada

adanya tingkat resiko yang tinggi dengan biaya operasional yang besar pula

3. Volume penjualan perusahaan konstan, ataupun tidak konstan tidak terlalu


mempengaruhi posisi kas perusahaan dalam periode uang ketat karena sumber-

sumber penerimaan kas dalam suatu perusahaan berasal dari berbagai factor,


antara lain penjualan investasi jangka panjang, penjualan atau adanya emisi saham,

penerimaan kas karena sewa, bunga atau dividen dari investasinya, dan keuntungan

dari penjualan hanya merupakan tambahan dana dari perusahaan yang

bersangkutan.

4. tergantung dari nilai besar kecilnya peminjaman, Jika peminjaman nilainya kecil

maka yang memiliki resiko lebih besar adalah peminjaman jangka panjang, karena

kita harus membayar besaran bunga yang lebih banyak sesuai dengan jangka waktu

yang kita ambil untuk waktu pelunasan. Meskipun jumlah bunga terlihat lebih kecil

dibandingkan dengan pokok , tetap saja total akhir bunga tersebut diakhir periode

pelunasan akan sangat besar,. Dikarenakan pengali (waktu pengambilan hutang)

terlalu besar. Begitupun sebaliknya, jika peminjaman nilainya relative besar maka

yang memiliki resiko lebih besar adalah peminjaman jangka pendek, karena kita


tidak memiliki banyak kesempatan untuk mencari peluang usaha yang bisa kita jalani

untuk membantu pembayaran angsuran peminjaman tersebut dan juga cicilan pokok

pinjaman cenderung besar karena pembayaran pokok pinjaman (waktu cicilan)

terlalu kecil.

5. a. Net working capital : Kelebian aktiva lancar, sedangkan

Gross working capital : Keseluruan aktiva lancar

b. Aktiva lancar permanen adalah aktiva yang secara lancar yang secara tetap

diperlukan oleh perusahaan untuk menjalankan fungsinya.

Aktiva lancar sementara adalah aktiva lancar yang diperlukan perusahaan untuk

sementara waktu saja, misalnya perubahan kegiatan usaha, yang disebabkan

perusahaan musim; konjungtur dan lain-lain.

c.. Kebijakan investasi aktiva lancar yang konservatif adalah pemenuhan kebutuhan

dana yang lebih banyak menggunakan sumber dana jangka panjang

dibandingkan jangka pendek. Sedangkan Kebijakan investasi aktiva lancar yang

agresif adalah pemenuhan kebutuhan dana yang lebih banyak men8 kal

ggunakan sumber dana pendek dibandingkan jangka panjang, dalam pendekatan

ini perusahaan berani menanggung risiko yang besar.

6. diket : Kas = 40 hari

Piutang = 8 kali

Utang = 10 kali

Penjualan = Rp 920.000

Dit. : a. Perputaran Persediaan ?

b. besarnya piutang ?

Jwb : b. Perputaran Piutang =

 Penjualan Rata−rata Piutang = 920.000

X = 8 kali


X = 920.000

8 = 115.000


Jadi Rata − rata Piutang = 115.000

Untuk mencari Rata − rata Piutang = Piutang

2. maka besarnya piutang = Rata − rata Piutang x 2 = 115.000 x 2 = 230.000

a. Periode terikatnya modal kerja - kas = 360

Perputaran Kas

40 hari = 360x

X =360

40 = 9 kali

Maka untuk menghitung Perputaran Persediaannya :


Kas = 9 kali

Piutang = 8 kali

Utang = 10 kali +
= 27 kali

Jadi Perputaran Persediaannya adalah 27 kali 

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi

yang melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini. Dalam

perekonomian terbuka sektor-sektor ekonominya dibedakan kepada empat golongan, yaitu :

rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan luar negeri. Melakukan perdagangan

internasional merupakan kegiatan yang lazim dilakukan oleh berbagai negara. Semenjak

berabad-abad yang lalu, ketika berbagai perekonomian masih belum begitu berkembang,

perdagangan ekspor dan impor telah mereka lakukan. Pada ketika ini kegiatan ekspor dan

impor merupakan bagian yang penting dalam kegiatan setiap perekonomian. Walau

bagaimanapun, secara relatif, kepentingannya berbeda dari suatu negara ke negara lain.


EKSPOR, IMPOR, DAN PENGELUARAN AGREGAT

Dalam ekonomi yang melakukan perdagangan luar negeri, aliran pendapatan dan

pengeluaran yang berlaku. Apabila aliran-aliran tersebut diperhatikan dengan teliti akan

didapati bahwa aliran yang berlaku dalam perekonomian terbuka adalah berbeda dengan

perekonomian tiga sektor sebagai akibat dari wujudnya kegiatan ekspor-impor.

Secara fisik, ekspor diartikan sebagai pengiriman dan penjualan barang-barang buatan

dalam negeri ke negara-negara lain. Pengiriman ini akan menimbulkan aliran pengeluaran

yang masuk ke sektor perusahaan. Dengan demikian pengeluaran agregat akan meningkat

sebagai akibat dari kegiatan mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya keadaan ini

akan menyebabkan peningkatan dalam pendapatan nasional. Impor menimbulkan efek yang

sebaliknya. Secara fisik, impor merupakan pembelian dan pemasukan barang dari luar

negeri ke dalam suatu perekonomian. Aliran barang ini akan menimbulkan aliran keluar atau

bocoran dari aliran pengeluaran dari sektor rumah tangga ke sektor perusahaan. Aliran

keluar atau bocoran ini pada akhirnya akan menurunkan pendapatan nasional yang dapat

dicapai. Dengan demikian, sejauh mana ekspor dan impor mempengaruhi keseimbangan


pendapatan nasional tergantung kepada ekspor netto, yaitu ekspor dikurangi impor. Apabila

ekspor netto adalah positif, pengeluaran agregat dalam ekonomi akan bertambah. Keadaan

ini akan meningkatkan pendapatan nasional dan kesempatan kerja.


PENENTU EKSPOR IMPOR

Untuk dapat menggambarkan dan menentukan keseimbangan dalam perekonomian

terbuka, perlulah terlebih dahulu dimengerti ciri-ciri dari ekspor dan impor. Untuk mengetahui

ciri-ciri tersebut perlulah dilihat faktor-faktor penting yang akan mempengaruhi ekspor dan

impor sesuatu negara. Kedua hal tersebut diterangkan dalam uraian berikut :

– Faktor-faktor yang Menentukan Ekspor

Sejauh manakah sesuatu negara akan mengekspor barang-barang yang diproduksinya?

Banyak faktor yang akan menentukan hal ini dan pada dasarnya kepentingan ekspor di

sesuatu negara selalu berbeda dengan negara lain. Di sebagian negara ekspor sangat

penting, yaitu meliputi bagian yang cukup besar dari pendapatan nasional. Akan tetapi di

sebagian negara lain peranannya relatif kecil.

Sesuatu negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain apabila barang

tersebut diperlukan negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang tersebut atau

produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri. Ekspor karet, kelapa sawit dan


petroleum dari beberapa negara Asia Tenggara berlaku oleh karena barang-

barang tersebut dibeli oleh negara-negara yang tidak dapat memproduksinya. Sebaliknya


pula negara-negara Asia Tenggara mengimpor kapal terbang, dan berbagai jenis barang

modal oleh karena mereka tidak dapat menghasilkan sendiri barang-barang tersebut.

Walau bagaimanapun faktor di atas bukanlah faktor yang terpenting yang menentukan

ekspor sesuatu negara. Faktor yang lebih penting lagi adalah kemampuan dari negara

tersebut untuk mengeluarkan barang-barang yang dapat bersaing dalam pasaran luar

negeri. Maksudnya, mutu dan harga barang yang diekspor tersebut haruslah paling sedikit

sama baiknya dengan yang diperjualbelikan dalam pasaran luar negeri. Cita rasa

masyarakat di luar negeri terhadap barang yang dapat diekspor ke luar negara sangat

penting peranannya dalam menentukan ekspor sesuatu negara. Secara umum boleh

dikatakan bahwa semakin banyak jenis barang yang mempunyai keistimewaan yang


sedemikian yang dihasilkan olehh sesuatu negara, semakin banyak ekspor yang dapat

dilakukan.

Pendapatan nasional dianggap bukan penentu penting dari ekspor sesuatu negara. Ekspor

akan secara langsung mempengaruhi pendapatan nasional. Akan tetapi hubungan yang

sebaliknya tidak selalu berlaku, yaitu kenaikan pendapatan nasional belum tentu menaikkan

ekspor oleh karena pendapatan nasional dapat mengalami kenaikan sebagai akibat

kenaikan pengeluaran rumah tangga, investasi perusahaan, pengeluaran pemerintah dan

penggantian barang impor dengan barang buatan dalam negeri.

Ciri yang baru diterangkan ini menyebabkan ekspor dipandang sebagai pengeluaran

otonomi- yaitu seperti yang diterangkan sebelumnya, adalah pengeluaran yang besarnya

tidak tergantung kepada pendapatan nasional. Dalam persoalan ini ciri ekspor adalah sama

dengan investasi perusahaan dan pengeluaran pemerintah, yaitu jumlahnya tidak ditentukan

oleh pendapatan nasional.


– Faktor-Faktor yang Menentukan Impor

Pada faktor yang menentukan ekspor dijelaskan bahwa hanya rumah tangga yang membeli

barang-barang dari luar negara. Dalam praktiknya tidaklah demikian. Barang buatan luar

negeri juga diimpor oleh sektor lain, yaitu oleh perusahan dan pemerintah. Perusahaan

mengimpor bahan mentah dan barang modal dari luar negeri. Pemerintah juga melakukan

hal yang sama, yaitu pemerintah menggunakan barang konsumsi dan barang modal yang

diimpor. Walau bagaimanapun dalam analisis makroekonomi diasumsikan bahwa impor

terutama dilakukan oleh rumah tangga. Maka fungsi impor sangat berhubungan dengan

pendapatan nasional. Yang dimkasudkan dengan fungsi impor adalah kurva yang

menggambarkan hubungan di antara nilai impor yang dilakukan dengan tingkat pendapatan

masyarakat dan pendapatan nasional yang dicapai. Seperti telah dinyatakan impor adalah

pengeluaran terpengaruh yang berarti semakin tinggi pendapatan nasional maka semakin

tinggi pula impor.


B. Keseimbangan Perekonomian Terbuka


Untuk menerangkan mengenai keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian

terbuka, analisis di sini akan menunjukkannya dengan membandingkan keseimbangan

dalam ekonomi tiga sektor dan ekonomi empat sektor. Akan ditunjukkan bagaimana

keseimbangan ekonomi tiga sektor akan mengalami perubahan apabila pengeluaran

agregat meliputi pula ekspor dan impor. Analisis akan dilakukan secara grafik dan dua

pendekatan akan digunakan: pendekatan pengeluaran agregat- penawaran agregat ( Y =

AE ) dan pendekatan suntikan-bocoran.

Sebelum keseimbangan pendapatan nasional dalam ekonomi terbuka diterangkan, terlebih

dahulu akan ditunjukkan syarat keseimbangan dalam perekonomian terbuka. Bagian ini juga

akan menerangkan dua hal berikut : (i) suatu contoh angka untuk menunjukkan

keseimbangan pendapatan, dan (ii) suatu contoh angka untuk menunjukkan keseimbangan

dalam perekonomian terbuka dan perubahan keseimbangan tersebut.


SYARAT KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

Keseimbangan pendapatan nasional akan dicapai pada keadaan di mana (i) penawaran

agregat sama dengan pengeluaran agregat, dan (ii) suntikan sama dengan bocoran. Uraian

berikut akan menerangkan bagaimana keadaan tersebut tercapai dalam perekonomian

terbuka.

– Penawaran dan Pengeluaran Agregat dalam Perekonomian Terbuka

Dalam perekonomian terbuka barang dan jasa yang diperjualbelikan di dalam negeri terdiri

dari dua golongan barang; (i) yang diproduksi di dalam negeri dan meliputi pendapatan

nasional (Y), dan (ii) yang diimpor dari luar negeri. Dengan demikian dalam perekonomian

terbuka penawaran agregat atau AS terdiri dari pendapatan nasional (Y) dan impor (M).

Dalam formula :


Uraian sebelum ini mengenai sirkulasi aliran pendapatan dalam perekonomian terbuka telah

menunjukkan bahwa pengeluaran agregat ( AE) meliputi lima komponen berikut :

pengeluaran rumah tangga ke atas barang produksi dalam negeri (Cdn), investasi swasta (I),

AS = Y + M


pengeluaran pemerintah (G), ekspor (X) dan pengeluaran ke atas impor (M). Dalam

persamaan :

AE = Cdn + I +G + X + M


Pengeluaran rumah tangga terdiri dari pengeluaran ke atas barang dalam negeri dan

pengeluaran ke atas barang impor. Maka dalam perekonomian terbuka berlaku persamaan

berikut :

C = Cdn + M


Berdasarkan persamaan diatas, persamaan AE boleh disederhanakan menjadi :

AE = C + I + G + X


Di mana nilai C meliputi pengeluaran ke atas produksi dalam negeri dan barang yang

diimpor.

Dalam setiap perekonomian (apakah ia terdiri dari dua sektor, tiga sektor atau empat sektor)

keseimbangan pendapatan nasional dicapai apabila penawaran agregat (AS) sama dengan

penggeluaran agregat (AE). Dengan demikian, dalam perekonomian terbuka keseimbangan

pendapatan nasional akan tercapai apabila :

Y + M = C + I + G + X

Atau :

Y = C + I + G + ( X – M )


Suntikan dan Bocoran dalam Perekonomian Terbuka


Dalam pendekatan suntikan-bocoran, keseimbangan pendapatan nasional dalam

perekonomian terbuka dicapai dalam keadaan berikut :

I + G + X = S + T + M


Uraian beikut menerangkan mengapa kesamaan tersebut perlu dicapai untuk menentukan

keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka.


KESEIMBANGAN DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA

Apabila dimisalkan perekonomian tersebut terdiri tiga sektor, keseimbangan pendapatan

nasional akan dicapai pada keadaan: Y = C + I + G. Dengan demikian pendapatan nasional

adalah Y. Apabila perekonomian ini berubah menjadi ekonomi terbuka, akan timbul dua

aliran pengeluaran baru, yaitu ekspor dan impor. Ekspor akan menambah pengeluaran

agregat manakala impor akan mengurangi pengeluaran agregat. Dengan demikian, apabila

perekonomian berubah dari ekonomi tertutup ke ekonomi terbuka, pengeluaran agregat

akan bertambah sebanyak ekspor neto, yaitu sebanyak ( X – M). Nilai ekspor neto ini perlu

ditambahkan kepada fungsi pengeluaran agregat untuk perekonomian tertutup ( AE = C + I

+ G ) dan akan diperoleh fungsi pengeluaran agregat untuk ekonomi empat sektor , yaitu :

AE = C + I + G + ( X – M ).

Sebagai akibat dari perubahan ini keseimbangan pendapatan nasional pindah dari Eo

menjadi E1 , dan menyebabkan pendapatan nasional meningkat dari Y3 (pendapatan

nasional dalam perekonomian tertutup ) menjadi Y4 (pendapatan nasional untuk

perekonomian terbuka). Patut disadari bahwa fungsi AE = C + I +G + ( X – M ) tidak sejajar

dengan AE = C + I + G dan dengan fungsi konsumsi (C). Keadaan demikian berlaku karena

impor (M) nilainya sebanding (proportional) dengan pendapatan nasional, maka fungsi AE =

C + I +G + ( X – M ) lebih landai.

Keseimbangan pendapatan nasional menurut suntikan-bocoran yaitu apabila dimisalkan

ekonomi terdiri dari tiga sektor, keseimbangan dicapai pada Eo yaitu apabila S + T = I + G

dan pendapatan nasional adalah Y3. Perubahan dari perekonomian tertutup menjadi

perekonomian terbuka, menyebabkan :


(i) Suntikan bertambah sebanyak X, dari I + G menjadi I + G + X. Perubahannya sejajar

karena ekspor adalah pengeluaran otonomi.

(ii) Bocoran bertambah sebanyak M, dari S + T , menjadi S + T + M. Fungsi S + T + M

bermula dari garis asal S + T dan semakin menjauhi S + T karena M adalah pengeluaran

terpengaruh ( sebanding dengan pendapatan nasional ).

Dengan demikian, efek dari perubahan dalam (i) dan (ii) dalam perekonomian terbuka

keseimbangan akan dicapai dar E3, yaitu pada persilangan di antara I + G + X dan S + T +

M. Maka pendapatan nasional dari ekonomi empat sektor adalah Y4.


Dalam perekonomian terbuka pendapatan nasional adalah sama dengan pengeluaran-

pengeluaran berikut : pengeluaran rumah tangga terhadap produksi dalam negeri, tabungan


rumah tangga, pajak perusahaan dan individu yang dibayar dan pengeluaran ke atas barang

impor. Dalam persamaan :

Y = Cdn + S + T + M

Oleh karena kesamaan di atas maka apabila Y = Cdn dengan sendirinya S + T + M = 0


PERUBAHAN-PERUBAHAN KESEIMBANGAN

Perubahan pengeluaran rumah tangga, perubahan komponen-komponen suntikan (I, G dan

X ) dan perubahan komponen-komponen bocoran ( S, T atau M ) akan menimbulkan

perubahan ke atas keseimbangan pendapatan nasional. Kenaikan dalam pengeluaran

rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah atau ekspor akan menaikkan pendapatan

nasional. Kenaikan pengeluaran agregat juga akan menimbulkan proses multiplier sehingga

pada akhirnya menyebabkan pertambahan pendapatan nasional adalah lebih besar dari

pertambahan pengeluaran agregat yang berlaku. Dalam ekonomi empat sektor nilai

multiplier adalah lebih kecil dari dalam ekonomi tiga sektor. Sebabnya adalah karena dalam

perekonomian terbuka dimisalkan impor adalah sebanding dengan pendapatan nasional,

yaitu persamaan impor adalah M = m Y. Nilai m menyebabkan tingkat “bocoran” (presentasi

dari pertambahan pendapatan nasional yang tidak dibelanjakan kembali untuk menimbulkan

proses multiplier selanjutnya ) menjadi bertambah besar.

Perubahan komponen yang meliputi bocoran ( S, T atau M ) akan menimbulkan akibat yang

sebaliknya dari yang ditimbulkan oleh komponen pengeluaran agregat. Kenaikan tabungan,


atau pajak atau impor akan mengurangi pendapatan nasional. Proses multiplier akan

menyebabkan pendapatan nasional berkurang lebih besar dari kenaikan bocoran


Ringkasan

1. Ekonomi Empat Sektor adalah Perekonomian yang menjalankan kegiatan

ekspor dan impor. (Perekonomian Terbuka)

2. Syarat Keseimbangan Pendapatan Nasional dalam perekonomian terbuka

akan dicapai pada keadaan dimana (i) Penawaran Agregat sama dengan

pengeluaran Agregat, dan (ii) Suntikan sama dengan Bocoran

3. Dalam ekonomi empat sector nilai multiplier adalah lebih kecil dibandingkan

dengan ekonomi tiga sector disebabkan karena dalam perekonomian terbuka

dimisalkan import adalah sebanding dengan pendapatan nasional, yaitu

persamaan import adalah M = m Y. nilai m menyebabkan tingkat “bocoran”

(presentasi dari pertambahan pendapatan nasional yg tidak dibelanjakan

kembali untuk menimbulkan proses multiplier selanjutnya0 menjadi

bertambah besar. Perubahan komponen yang melipti bocoran ( S, T atau M)

akan menimbulkan akibat yg sebaliknya dari yang ditimbulkan oleh

komponen pengeluaran agregat. Kenaikan tabungan , atau pajak atu impor

akan mengurangi pendapatan nasional. Proses multiplier akan menyebabkan

pendapatan nasional berkurang lebih bresar dari kenaikan bocoran.

4. Diket : C = 100 + 0,8 Yd

T = 0,25

M = 0,10 Y

T = 0,25

I = 200

G = 200

X = 400

Y = C + I + G + X – M


= 100 + 0,8 (1-0,25)Y + 200 + 200 + 400 – 0,10Y

Y – 0,8 (1-0,25)Y + 0,10Y = 900


(1-0,8 (1-0,25) + 0,10)Y = 900

Ye = 1/1-0,8 (1-0,25) + 0,10 . 900

= 1/1-0,8 (0,75) + 0,10 . 900

= 1/1-0,6 + 0,10 . 900

= 1/0,5 . 900 = 1800


Yd = Y – T = Y – t.Y = 1800 – 0,25 (1800) = 1350

Z = 1/0,5 = 2


→ Keseimbangan Pendapatan Nasional :

T – G = t.Y – G = 0,25 (1800) – 200 = 250

→ Neraca Perdagangan = X – M = 400 – 0,10 ( 1800) = -220 (Defisit)

KESEIMBANGAN EKONOMI TIGA SEKTOR (2)

  Ekonomi Tiga Sektor adalah Perekonomian yang meliputi kegiatan dalam sector

perusahaan, rumah tangga, dan pemerintah. (Perekonomian tertutup)

 Aliran Pendapatan dan Pengeluaran, Campur tangan Pemerintah menimbulkan 3 jenis

aliran baru :

1. Pembayaran pajak oleh rumah tangga dan perusahaan kepada pemerintah.

Pembayaran pajak tersebut menimbulkan pendapatan kepada pihak pemerintah. Ia

merupakan sumbert pendapatan pemerintah yang utama.

2. Pengeluaran dari sector pemerintah ke sector perusahaan. Aliran ini menggambarkan

nilai pengeluaran pemerintah ke atas barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan

oleh sector perusahaan.

3. Aliran pendapatan dari sector pemerintah ke asektor rumah tangga. Aliran ini timbul

sebagai aklibat dari pembayaran ke atas konsumsi faktor-faktor produkasi yang

dimiliki sector rumah tangga oleh pemerintah.

 Ciri – ciri aliran pendapatan dan pengeluaran :

 Pembayaran oleh sector perusahaan sekarang dapat dibedakan menjadi 2 jenis :

1. Pembayaran kepada sector rumah tangga sebagai pendapatan kepada

kepada faktor-faktor produksi

2. Pembayaran pajak pendapatan perusahaan kepada pemerintah

 Pendapatan yang diterima rumah tangga sekarang berasal dari 2 sumber :


1. Pembayaran gaji dan upah, sewa, bunga dan untung oleh perusahaan

2. Dari pembayaran gaji dan upah oleh pemeintah

 Pemerinta menerima pendapatan berupa pajak dari perusahaan dan dari rumah

tangga. Pendapatan tersebut akan digunakaan untuk membayar gaji dan upah

pegawai dan untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa.

 Pendapatan yang diterima ruma tangga (Y) akan digunakan untuk memenuhi 3

kebutuan :

1. Membayar membiayai pengeluaran konsumsi (C)

2. Disimpan sebagai tabungan (S)

3. Membayar pajak pendapatan rumah tangga (T).

Dalam persamaan Y = C + S + T

 Syarat Keseimbangan 3 Sektor :

 Pendapatan yang diterima rumah tangga (Y) akan digunakan untuk memenuhi

tiga kebutuhan : Membayar membiayai pengeluaran konsumsi (C), disimpan

sebagai tabungan (S),dan membayar pajak pendapatan rumah tangga (T).


Y = C + S + T


 Pengeluaran Agregat (AE) telah menjadi bertamba banyak jenisnya, yaitu

disamping pengeluran konsumsi (C) dan Investasi (I), sekarang termasuk pula

pengeluaran pemerintah (G).


AE = C + I + G


 Kegiatan sector perusahaan untuk memproduksi barang dan jasa akan

mewujudkan aliran pedapatan ke sector rumah tangga (gajio dan upah, sewa,

bunga dan keuntungan) semua nilainya dengan pendapatan nasional (Y)

 Pendapatan rumah tangga akn digunakan 3 tujuan : membiayai konsumsi (C),

ditabung (S) dan membayar pajak (T).


Y = C + S + T

KESEIMBANGAN EKONOMI TIGA SEKTOR

 1. Yang maksud ekonomi tiga sector yaitu perekonomian yang meliputi kegiatan dalam

sector perusahaan, rumah tangga dan pemerintah. Atau disebut juga sebagai

perekonomian tertutup.

2. - Pajak Langsung yaitu pajak yang pembayarannya arus ditanggung sendiri oleh wajib

pajak dan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain. sedangkan

- Pajak Tidak Langsung yaitu : pajak yang pembayarannya dapat dialihkan kepada

pihak lain

3. - Pajak Proporsional yaitu pajak yang presentasinya sama untuk pendapatan yang

berbeda-beda. Sedangkan

- Pajak Progresif yaitu pajak yang presentasenya bergabung pada besarnya pendaptan

yang diterima oleh wajib pajak.

4. - Pendapatan Nasional dengan pendekatan agregat :

Y = C + I + G

Y = 50 + 0,50Y + 100 +180

0,50Y = 330

Y = 660

- Pendekatan Nasional dengan pendekatan suntikan-bocoran :

I + G = S + T

100 + 180 = -50 + 0,30Y + 0,20Y

280 + 50 = 0,30Y + 0,20Y

330 = 0,50Y

Y = 660