Senin, 09 Oktober 2023

HUTANG JANGKA PENDEK

  1. Pengertian Hutang Jangka Pendek
Perusahaan meminjam uang dalam jangka pendek untuk kegiatan operasional perusahaan, biasa

disebut dengan utang jangka pendek atau lancar. IAI Nomor 1 (2004:44) menyatakan bahwa suatu

utang diklasifikasikan sebagai utang jangka pendek jika :

  • diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu siklus normal operasi perusahaan,
  • jatuh tempo dalam jangka waktu 12 bulan dari tanggal Neraca.

Dapat dikatakan bahwa utang lancar adalah semua utang keuangan perusahaan dimana pelunasannya

akan dilakukan dalam jangka waktu kurang atau 1 tahun yang biasanya dengan menggunakan aktiva

yang dimiliki perusahaan.

    Menurut Jerry J. Weygandt, dkk (2008:4) utang lancar merupakan utang yang memiliki dua kriteria

pokok : (1) diharapkan dapat dibayarkan dari aset lancar yang ada atau dengan membuat utang jangka

pendek lainnya; (2) diperkirakan akan dibayarkan dalam jangka waktu satu tahun atau satu siklus

operasi perusahaan, mana yang lebih lama.Artikel dari asepnurrafiq.blogspot.com/2008/11/ yang

berjudul Economic and Accounting Education, mengartikan utang lancar sebagai : utang-utang yang

akan diselesaikan pembayarannya dengan menggunakan sumber-sumber ekonomi yang

diklasifikasikan sebagai aktiva lancar atau dengan menciptakan utang yang baru.

    Menurut Niswonger, dkk (1999:441) utang lancar merupakan utang yang harus dibayar dengan aktiva

lancar serta jatuh tempo dalam jangka pendek, biasanya setahun dinamakan dengan dengan utang

lancar atau utang jangka pendek. Masih menurut Niswonger, dkk (1999:441), sebagian besar utang

jangka pendek berasal dari dua transaksi dasar yaitu (1) barang atau jasa yang telah diterima tetapi

belum dibayarkan dan (2) pembayaran yang telah diterima tetapi barang atau jasa belum dikirimkan.


2. Pembagian Hutang Jangka Pendek

Hongren (2006:506) mengelompokkan hutang jangka pendek atau h utang lancar menjadi tiga bagian,

yakni:

1. Hutang yang jumlahnya dapat dipastikan

a. Hutang Usaha atau Hutang Dagang

Utang usaha adalah jumlah yang dipinjam untuk pembelian produk atau pemakaian jasa

atas akun (utang) yang terbuka.

Contoh:

Dibeli persediaan barang dagang secara kredit (Periodik) sebesar Rp 1.000.000

b. Wesel Bayar Jangka Pendek

Merupakan bentuk umum dalam pembiayaan yang memiliki jatuh tempo satu tahun.

Contoh:

Pada tanggal 1 Desember 1990 PT A membeli persediaan barang dagang sebesar Rp

2.000.000, dengan mengeluarkan wesel dengan tingkat bunga 12% per tahun, jangka

waktu 60 hari .

Jurnalnya : 1 / 12 Pembelian barang dengan mengeluarkan sebuah wesel

31 /12 Penyesuaian bunga (Hutang bunga dilaporkan sebagai hutang jangka pendek)

Perhitungan bunga: 2.000.000 x 12% x (30/360) = 20.000

dari tanggal 1/12 s/d 31/12 = 30 hari


Jurnal Balik: 1 / 1 Pembayaran wesel

30 1 Perhitungan bunga: 2.000.000 x 12% x (60/360) = 40.000


c. Wesel Bayar jangka pendek yang dikeluarkan dengan Diskonto

Perusahaan dapat juga mendiskontokan weselnya (untuk peminjaman uang) pada bank.

Diskonto yaitu pengurangan terhadap nilai bunga dari nilai nominal wesel.

Contoh:

PT ABC mendiskontokan weselnya yang mempunyai nilai nominal sebesar Rp 1.000.000,

jangka waktu wesel 60 hari, tanggal wesel 1 desember 1994 dengan tingkat diskonto

sebesar 12%.

Perhitungan:

Nilai nomina Rp. l 1.000.000

Diskonto Rp. 1.000.000 x 12% x (60/360) Rp. 20.000 –

Hasil Pendiskontoan / kas yang diterima Rp. 980.000

Des 1  Mencatat pendiskontoan wesel (Wesel bayar)

Des 31 Amortisasi (penghapusan) diskonto wesel bayar à penyesuaian akhir tahun (merupakan

pengakuan beban bunga dan penghapusan diskonto wesel bayar)

Perhitungan: 1.000.000 x 12% x (30/360) = 10.000

1 des s/d 31 des = 30 hari

NB: diasumsikan jurnal penutup dibuat

Jan 30

Amortisasi (penghapusan) diskonto wesel bayar  pengakuan beban bunga dan

penghapusan diskonto wesel bayar berikutnya

Perhitungan: 1.000.000 x12% x (30/360) = 10.000

des s/d 30 jan = 30 hari Jan 30


d. Hutang Jangka Panjang yang akan jatuh tempo

Hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo merupakan bagian dari hutang jangka

panjang yang harus dibayar dalam jangka waktu kurang dari satu tahun.

Contoh:

Neraca per 31 Mei PT ABC memiliki hutang jangka panjang sebesar Rp 250.000.000.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 50.000.000 akan jatuh tempo dalam waktu kurang dari

satu tahun. Maka pelaporan kewajiban dalam neraca PT ABC akan nampak sebagai

berikut:

Kewajiban lancar:

Hutang jangka panjang yang akan jatuh tempo Rp 50.000.000

Kewajiban jangka panjang:

Hutang jangka panjang Rp 200.000.000


e. Beban yang masih harus dibayar

Beban yang telah terjadi namun sampai tanggal pelaporan belum dibayarkanContoh:

PT ABC menerima uang muka sebesar Rp 480.000 untuk berlangganan majalah “Bola”

selama 1 tahun pada tanggal 1 april 1990.

Jurnalnya :

April 1

Penerimaan uang muka sebesar 480.000 untuk 12 bulan

Jadi per bulannya = 480.000 / 12 = 40.000


Pada akhir tahun, 31 desember 1990 PT ABC akan mengakui pendapatan untuk 9 bulan (

1 april s/d 31 desember = 9 bulan)

Pendapatan diakui jika majalah “Bola” sudah diberikan kepada pelanggannya. Karena

selama 9 bulan sudah diberikan, maka pendapatan diakui.

Des 31

Pengakuan pendapatan selama 9 bulan.

Per bulannya sebesar Rp 40.000

jadi 9 bulannya sebesar Rp 40.000 x 9 = 360.000

NB: diasumsikan jurnal penutup dibuat.

Mar 31

Pengakuan pendapatan sisanya yaitu 3 bulan ( 1 jan s/d 31 maret = 3 bulan)

Per bulannya sebesar Rp 40.000,

jadi 3 bulannya sebesarnya Rp 40.000 x 3 = 120.000

f. Hutang pajak penjualan.

hampir semua negara membebankan pajak untuk penjualan eceran. Para pengecer

mengumpulkan pajak penjualan sebagai tambahan pada harga beli barang yang dijual,

maka pengecer akan berutang pada negara atas pajak penjualan tersebut.

g. Beban yang masih harus dibayar

Beban yang telah terjadi namun sampai tanggal pelaporan belum dibayarkan.

h. Utang dividen

Dividen yang telah diumumkan namun belum dibayar


2. Hutang yang jumlahnya tidak dapat dipastikan (diperkirakan)

Sering kali perusahaan mengetahui bahwa ada kewajiban tapi tidak mengetahui secara pasti

berapa jumlah kewajiban tersebut. Kewajiban semacam ini disebut kewajiban yang harus

diperkirakan.

Contoh:

  • Hutang Garansi yang diperkirakan
  • Deposito yang dikembalikan
  • Kewajiban Bersyarat
  • Pelanggan yang menuntut perusahaan karena produk yang dibelinya tidak sesuai dengan apa yang diiklankan.
  • Kewajiban bersyarat yang timbul karena perusahaan menjadi penjamin atas hutang yang dilakukan perusahaan lain kepada pihak ketiga. Praktek ini disebut sebagai consigning

3. Hutang – Hutang Bersyarat


Referensi :

Kieso, D. E., Weygandt, J. J., & Warfield, T. D. (2014). Intermediate Accounting (15 ed.). New Jersey: Wiley.

Martani, D. (2012). Akuntansi Keuangan Menengah. Jakarta: Salemba Empat.

asepnurrafiq.blogspot.com/2008/11/ yang berjudul Economic and Accounting Education

Tidak ada komentar:

Posting Komentar