Senin, 09 Oktober 2023

pengembangan sistem informasi akuntansi untuk Perusahaan jasa bidang Asuransi (perusahaan baru berjalan)

 Langkah-langkah yang perlu diterapkan untuk pengembangan SIA pada perusahaan baru berjalan

(Asuransi) adalah :

 Mengumpulkan bahan – bahan baik melalui referensi, perpustakaan maupun dari perusahaan –

perusahaan asuransi sendiri.

 Memberikan pedoman dan informasi produk knowledge yang tepat kepada masyarakat / calon

nasabah / pengguna asuransi

 Melakukan promosi pemasaran melalui media cetak, website, forum , blog, dan media elektronik

lainnya.

 Mengelola data yang masuk /atau diterima

Adapun untuk mengelola suatu data /atau laporan keuangan yang diperlukan oleh perusahaan jasa

Asuransi baru, bisa dilakukan dengan cara membuat sistem software aplikasi berbasis komputer

“Computer Based Information Sistem (CBIS)”


Dalam CBIS terdapat sistem informasi jasa Asuransi dengan beberapa modul terintegrasi yaitu :

  • Modul polis (policy) 
  • Modul tertanggung
  • Modul premi (premium)
  • Modul uang pertanggungan
  • Modul pemegang polis (insured) 
  • Modul nilai tunai
  • Modul agen / filed underwriter / konsultan 
  • Modul masa leluasa
  • Modul ahli waris 
  • Modul premi batal

Contoh DFD SIA Jasa Asuransi





Sistem Informasi Akuntansi

 1. Apakah yang dimaksud dengan analisis sistem ?

Seseorang yang bertanggung jawab atas penelitian, perencanaan, pengkoordinasian, dan merekomendasikan

pemilihan perangkat lunak dan sistem yang paling sesuai dengan kebutuhan organisasi bisnis atau

perusahaan. Seorang analisis sistem harus memiliki setidaknya empat keahlian:

 analisis,

 teknis,

 manajerial,

 dan interpersonal (berkomunikasi dengan orang lain).

Adapun tugas yang dilakukan oleh seorang analisis sistem adalah :

 Berinteraksi dengan pelanggan untuk memahami kebutuhan sistem yang akan di gunakan

 Berinteraksi dengan desainer untuk mengemukakan antar muka yang diinginkan atas suatu perangkat

lunak

 Berinteraksi ataupun memandu programer dalam proses pengembangan sistem agar tetap berada pada

jalurnya

 Melakukan pengujian sistem baik dengan data sampel atau data sesungguhnya untuk membantu para

penguji

 Mengimplementasikan sistem baru / sistem usulan yang akan digunakan perusahaan

 Menyiapkan dokumentasi berkualitas


2. Apakah yang dimaksud dengan desain sistem ?

Desain sistem merupakan tahap setelah analisis sistem dari siklus pengembangan sistem yang mendefinisikan

dari kebutuhan-kebutuhan fungsional, persiapan untuk rancang bangun implementasi, menggambarkan

bagaimana suatu sistem dibentuk berupa penggambaran, perencanaan dan pembuatan sketsa atau pengaturan

dari beberapa elemen yang terpisah kedalam suatu kesatuan yang utuh dan berfungsi, dari komponen-

komponen perangkat lunak dan perangkat keras dari suatu sistem.

3. Apakah yang dimaksud dengan implementasi sistem ?

Implementasi sistem merupakan tahap penerapan sistem yang akan dilakukan jika sistem disetujui termasuk

program yang telah dibuat pada tahap perancangan sistem agar siap untuk dioperasikan.


4. Sebutkan dan jelaskan pengembangan sistem ?

Pengembangan sistem merupakan penyusunan suatu sistem yang baru untuk menggantikan sistem yang lama

secara keseluruhan atau memperbaiki sistem yang telah ada

Adapun langkah-langkah dalam pengembangan sistem yaitu :

1) Pengumpulan data / assetment

 Standard Operasional Procedure (SOP)

 Struktur Organisasi

 Kick Of Meeting


Nama : Sudarwanto Mata Kuliah : Sistem Informasi Akuntansi

NIM : 2015120344 Nama Dosen : Heri Iswanto,S.Kom,MM

Semester / Ruang : 06SAKE003 / 608 Nomor Absen : 29 (Dua puluh sembilan)

Program Studi : S1 Akuntansi Tugas E-Learning : Pertemuan 17

2) Dokumen SRS – BPO

Software requirement system – businees proses owner

 Dokumen persyaratan pengembangan

 Batasan pengembangan

 DFD

 Flow chart

3) UAT – BPO

User acceptence test

4) SRS – Development

 Flow chart system

 Flow chart tata letak

 DFD

5) Development – programmer

Program (coding)

6) UAT – User

User acceptance test

7) Edukasi dan training


Atribut pada Data Flow Diagram

MANAJEMEN MODAL KERJA 2

 Ada dua pengertian modal kerja, yang pertama gross working capital, adalah keseluruhan aktiva lancar, sementara pengertian net working capital adalah kelebihan ktiva lancar di atas utang lancar.

Manajemen modal yang efektif menjadi sangat penting untuk pertumbuhan

kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan

modal kerja untuk memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar

kemungkinannya akan kehilangan pendapatan dan keuntungan. Perusahaan yang

tidak memiliki modal kerja yang cukup, tidak dapat membayar kewajiban jangka

pendek tepat pada waktunya dan akan menghadapi masalah likuiditas. Investasi modal

kerja merupakan proses terus-menerus selama perusahaan beroperasi, yang

dipengaruhi oleh:

1. Tingkat investasi aktiva lancar perusahaan

2. Proporsi utang jangka pendek yang digunakan

3. Tingkat investasi pada setiap jenis aktiva lancar

4. Sumber dana yang spesifik dan komposisi utang lancar yang harus dipertahankan

Semakin lama periode antara saat pengeluaran kas sampai penerimaan kembali,

maka kebutuhan modal kerja akan semakin besar. Periode itu bisa terjadi pembayaran

di muka bahan baku --- penerimaan bahan baku --- bahan baku disimpan --- proses

produksi --- disimpan sebelum dijual --- dijual secara kredit --- penerimaan kas kembali.

Apabila rangkaian tersebut semakin panjang maka kebutuhan modal kerja menjadi

semakin besar. Dengan demikian besar kecilnya modal kerja merupakan fungsi dari

beberapa faktor seperti:

1. Jenis produk yang dibuat

2. Jangka waktu siklus operasi

3. Tingkat penjualan, semakin tinggi tingkat penjualan maka kebutuhan investasi

pada persediaan juga akan semakin besar

4. Kebijakan persediaan


5. Kebijakan penjualan kredit Seberapa jauh efisiensi manajemen aktiva lancer


Kebutuhan dana perusahaan meliputi investasi aktiva lancar dan aktiva tetap. Aktiva

lancar itu sendiri dapat dibagi menjadi dua kategori: (1) aktiva lancar permanen dan (2)

aktiva lancar yang berfluktuasi. Fluktuasi aktiva lancar adalah dipengaruhi oleh faktor

musiman atau siklus permintaan. Sebagai contoh, perusahaan investasi persediaan

dalam jumlah besar pada masa puncak penjualan, sebaliknya akan pada masa-masa

sepi.

Terdapat tiga alternatif pemenuhan kebutuhan dana dalam kaitannya dengan aktiva

lancar: (1) matching approach, akan membiayai investasi aktiva tetap dan aktiva lancar

permanen dengan sumber dana jangka panjang, baik itu utang jangka panjang

maupun modal sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari risiko perusahaan

apabila sumber dana yang digunakan adalah sumber dana jangka pendek, maka pada

saat jatuh tempo perusahaan tidak dapat membayar kembali, (2) conservative

approach, akan membiayai investasi aktiva tetap dan aktiva lancar permanen serta

sebagian aktiva lancar yang berfluktuasi dengan utang jangka panjang atau modal

sendiri. Proporsi utang jangka pendek dengan demikian akan lebih kecil dibandingkan

dengan matching approach, dan (3) aggressive approach, adalah pendekatan dalam

pemenuhan kebutuhan dana dengan menggunakan proporsi utang jangka pendek

yang lebih besar, jika dibandingkan dengan pendekatan yang lain.


Penentuan Kebutuhan Modal Kerja


Terdapat beberapa metode yang biasa dipergunakan untuk menentukan

besarnya kebutuhan modal kerja seperti (1) metode keterikatan dana, (2) metode

perputaran modal kerja dan (3) metode aliran kas.

1. Metode keterikatan dana

2. Metode perputaran modal kerja

3. Metode perputaran modal kerja ini berbeda dengan metode keterikatan

dana, karena metode ini menentukan kebutuhan modal kerja dengan

memperhatikan perputaran elemen pembentuk modal kerja itu sendiri

seperti kas, piutang dan persediaan


1.4. Anjak Piutang (Factoring)


Anjak piutang dapat didefinisikan sebagai suatu kontrak di mana

perusahaan anjak piutang paling tidak menyediakan jasa-jasa pembiayaan, jasa


pembukuan (maintenance of accounts), jasa penagihan piutang dan jasa

perlindungan risiko kredit dan untuk itu klien berkewajiban kepada perusahaan

anjak piutang untuk menjual atau menjaminkan piutang yang berasal dari

penjualan produk. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan anjak

piutang meliputi antara lain:

1. Pembelian dan atau pengalihan piutang jangka pendek dari transaksi

perdagangan.

2. Administrasi penjualan kredit.

3. Penagihan piutang perusahaan klien.


Pihak-pihak yang Terlibat Dalam Anjak Piutang


Tiga partisipan utama dalam transaksi anjak piutang adalah 1. Perusahaan

anjak piutang atau factor adalah perusahaan yang menawarkan jasa anjak

piutang. 2. Klien adalah pihak yang menggunakan jasa perusahaan anjak

piutang. Sedangkan 3. nasabah adalah pihak-pihak yang mengadakan transaksi

dengan klien.

Jenis Anjak Piutang

Beberapa jenis anjak piutang yang biasanya ditawarkan oleh perusahaan anjak

piutang antara lain:

1. Fungsi service factoring, yaitu suatu bentuk jasa yang meliputi seluruh jenis

jasa anjak piutang baik yang beripa jasa pembiayaan maupun jasa

nonpembiayaan.

2. Recourse factoring, yaitu suatu bentuk pelayanan yang meliputi seluruh

bentuk jasa anjak piutang kecuali jasa perlindungan risiko kredit.

3. Bulk factoring, yaitu jasa anjak piutang hanya meliputi jasa pembiayaan dan

pemberian jatuh tempo tagihan kepada nasabah. Bentuk-bentuk jasa lainnya

seperti perlindungan risiko kredit, administrasi penjualan ataupun penagihan

tidak diperlukan.

4. Maturity factoring, yaitu suatu bentuk jasa anjak piutang di mana klien tidak

menerima pembayaran di muka dari perusahaan anjak piutang

5. Agency factoring, yaitu bentuk anjak piutang yang merupakan perluasan dari

bulk factoring, di mana terjadi penyerahan seluruh penjualan (piutang klien)

kepada perusahaan anjak piutang atas dasar notifikasi.

menghitung Perputaran Persediaan

 1. Jenis industry dan skala perusahaan jelas mempengaruhi besar kecilnya aktiva

lancar, perusahaan kecil cenderung memiliki modal kerja yang lebih tinggi

dibandingkan dengan perusahaan besar. Hal ini terjadi mungkin karena perusahaan

besar menjadi semakin intensif menggunakan modal, mempunyai skala ekonomi

atau aliran kas yang relative stabil, dan mempunyain akses yang lebih baik ke pasar

uang, dan aktifitas perusahaan, semakin tinggi penjualan akan semakin besar pula

aktiva lancar perusahaan. Dan begitupun sebaliknya factor yang sama juga

mempengaruhi utang lancaranya, manajemen yang agresif akan menggunakan

utang yang lebih tinggi karena akan memberikan profitabilitas yang tinggi , meskipun

resiko juga akan semakin meningkat

2. Pendekatan agresif disatu sisi akan sangat menguntungkan perusahaan karena

akan lebih cepat meningkatkan jumlah aktiva lancarnya tetapi berkonsekuensi pada

adanya tingkat resiko yang tinggi dengan biaya operasional yang besar pula

3. Volume penjualan perusahaan konstan, ataupun tidak konstan tidak terlalu


mempengaruhi posisi kas perusahaan dalam periode uang ketat karena sumber-

sumber penerimaan kas dalam suatu perusahaan berasal dari berbagai factor,


antara lain penjualan investasi jangka panjang, penjualan atau adanya emisi saham,

penerimaan kas karena sewa, bunga atau dividen dari investasinya, dan keuntungan

dari penjualan hanya merupakan tambahan dana dari perusahaan yang

bersangkutan.

4. tergantung dari nilai besar kecilnya peminjaman, Jika peminjaman nilainya kecil

maka yang memiliki resiko lebih besar adalah peminjaman jangka panjang, karena

kita harus membayar besaran bunga yang lebih banyak sesuai dengan jangka waktu

yang kita ambil untuk waktu pelunasan. Meskipun jumlah bunga terlihat lebih kecil

dibandingkan dengan pokok , tetap saja total akhir bunga tersebut diakhir periode

pelunasan akan sangat besar,. Dikarenakan pengali (waktu pengambilan hutang)

terlalu besar. Begitupun sebaliknya, jika peminjaman nilainya relative besar maka

yang memiliki resiko lebih besar adalah peminjaman jangka pendek, karena kita


tidak memiliki banyak kesempatan untuk mencari peluang usaha yang bisa kita jalani

untuk membantu pembayaran angsuran peminjaman tersebut dan juga cicilan pokok

pinjaman cenderung besar karena pembayaran pokok pinjaman (waktu cicilan)

terlalu kecil.

5. a. Net working capital : Kelebian aktiva lancar, sedangkan

Gross working capital : Keseluruan aktiva lancar

b. Aktiva lancar permanen adalah aktiva yang secara lancar yang secara tetap

diperlukan oleh perusahaan untuk menjalankan fungsinya.

Aktiva lancar sementara adalah aktiva lancar yang diperlukan perusahaan untuk

sementara waktu saja, misalnya perubahan kegiatan usaha, yang disebabkan

perusahaan musim; konjungtur dan lain-lain.

c.. Kebijakan investasi aktiva lancar yang konservatif adalah pemenuhan kebutuhan

dana yang lebih banyak menggunakan sumber dana jangka panjang

dibandingkan jangka pendek. Sedangkan Kebijakan investasi aktiva lancar yang

agresif adalah pemenuhan kebutuhan dana yang lebih banyak men8 kal

ggunakan sumber dana pendek dibandingkan jangka panjang, dalam pendekatan

ini perusahaan berani menanggung risiko yang besar.

6. diket : Kas = 40 hari

Piutang = 8 kali

Utang = 10 kali

Penjualan = Rp 920.000

Dit. : a. Perputaran Persediaan ?

b. besarnya piutang ?

Jwb : b. Perputaran Piutang =

 Penjualan Rata−rata Piutang = 920.000

X = 8 kali


X = 920.000

8 = 115.000


Jadi Rata − rata Piutang = 115.000

Untuk mencari Rata − rata Piutang = Piutang

2. maka besarnya piutang = Rata − rata Piutang x 2 = 115.000 x 2 = 230.000

a. Periode terikatnya modal kerja - kas = 360

Perputaran Kas

40 hari = 360x

X =360

40 = 9 kali

Maka untuk menghitung Perputaran Persediaannya :


Kas = 9 kali

Piutang = 8 kali

Utang = 10 kali +
= 27 kali

Jadi Perputaran Persediaannya adalah 27 kali 

KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

Perekonomian terbuka atau perekonomian empat sektor adalah suatu sistem ekonomi

yang melakukan kegiatan ekspor dan impor dengan negara-negara lain di dunia ini. Dalam

perekonomian terbuka sektor-sektor ekonominya dibedakan kepada empat golongan, yaitu :

rumah tangga, perusahaan, pemerintah, dan luar negeri. Melakukan perdagangan

internasional merupakan kegiatan yang lazim dilakukan oleh berbagai negara. Semenjak

berabad-abad yang lalu, ketika berbagai perekonomian masih belum begitu berkembang,

perdagangan ekspor dan impor telah mereka lakukan. Pada ketika ini kegiatan ekspor dan

impor merupakan bagian yang penting dalam kegiatan setiap perekonomian. Walau

bagaimanapun, secara relatif, kepentingannya berbeda dari suatu negara ke negara lain.


EKSPOR, IMPOR, DAN PENGELUARAN AGREGAT

Dalam ekonomi yang melakukan perdagangan luar negeri, aliran pendapatan dan

pengeluaran yang berlaku. Apabila aliran-aliran tersebut diperhatikan dengan teliti akan

didapati bahwa aliran yang berlaku dalam perekonomian terbuka adalah berbeda dengan

perekonomian tiga sektor sebagai akibat dari wujudnya kegiatan ekspor-impor.

Secara fisik, ekspor diartikan sebagai pengiriman dan penjualan barang-barang buatan

dalam negeri ke negara-negara lain. Pengiriman ini akan menimbulkan aliran pengeluaran

yang masuk ke sektor perusahaan. Dengan demikian pengeluaran agregat akan meningkat

sebagai akibat dari kegiatan mengekspor barang dan jasa dan pada akhirnya keadaan ini

akan menyebabkan peningkatan dalam pendapatan nasional. Impor menimbulkan efek yang

sebaliknya. Secara fisik, impor merupakan pembelian dan pemasukan barang dari luar

negeri ke dalam suatu perekonomian. Aliran barang ini akan menimbulkan aliran keluar atau

bocoran dari aliran pengeluaran dari sektor rumah tangga ke sektor perusahaan. Aliran

keluar atau bocoran ini pada akhirnya akan menurunkan pendapatan nasional yang dapat

dicapai. Dengan demikian, sejauh mana ekspor dan impor mempengaruhi keseimbangan


pendapatan nasional tergantung kepada ekspor netto, yaitu ekspor dikurangi impor. Apabila

ekspor netto adalah positif, pengeluaran agregat dalam ekonomi akan bertambah. Keadaan

ini akan meningkatkan pendapatan nasional dan kesempatan kerja.


PENENTU EKSPOR IMPOR

Untuk dapat menggambarkan dan menentukan keseimbangan dalam perekonomian

terbuka, perlulah terlebih dahulu dimengerti ciri-ciri dari ekspor dan impor. Untuk mengetahui

ciri-ciri tersebut perlulah dilihat faktor-faktor penting yang akan mempengaruhi ekspor dan

impor sesuatu negara. Kedua hal tersebut diterangkan dalam uraian berikut :

– Faktor-faktor yang Menentukan Ekspor

Sejauh manakah sesuatu negara akan mengekspor barang-barang yang diproduksinya?

Banyak faktor yang akan menentukan hal ini dan pada dasarnya kepentingan ekspor di

sesuatu negara selalu berbeda dengan negara lain. Di sebagian negara ekspor sangat

penting, yaitu meliputi bagian yang cukup besar dari pendapatan nasional. Akan tetapi di

sebagian negara lain peranannya relatif kecil.

Sesuatu negara dapat mengekspor barang produksinya ke negara lain apabila barang

tersebut diperlukan negara lain dan mereka tidak dapat memproduksi barang tersebut atau

produksinya tidak dapat memenuhi keperluan dalam negeri. Ekspor karet, kelapa sawit dan


petroleum dari beberapa negara Asia Tenggara berlaku oleh karena barang-

barang tersebut dibeli oleh negara-negara yang tidak dapat memproduksinya. Sebaliknya


pula negara-negara Asia Tenggara mengimpor kapal terbang, dan berbagai jenis barang

modal oleh karena mereka tidak dapat menghasilkan sendiri barang-barang tersebut.

Walau bagaimanapun faktor di atas bukanlah faktor yang terpenting yang menentukan

ekspor sesuatu negara. Faktor yang lebih penting lagi adalah kemampuan dari negara

tersebut untuk mengeluarkan barang-barang yang dapat bersaing dalam pasaran luar

negeri. Maksudnya, mutu dan harga barang yang diekspor tersebut haruslah paling sedikit

sama baiknya dengan yang diperjualbelikan dalam pasaran luar negeri. Cita rasa

masyarakat di luar negeri terhadap barang yang dapat diekspor ke luar negara sangat

penting peranannya dalam menentukan ekspor sesuatu negara. Secara umum boleh

dikatakan bahwa semakin banyak jenis barang yang mempunyai keistimewaan yang


sedemikian yang dihasilkan olehh sesuatu negara, semakin banyak ekspor yang dapat

dilakukan.

Pendapatan nasional dianggap bukan penentu penting dari ekspor sesuatu negara. Ekspor

akan secara langsung mempengaruhi pendapatan nasional. Akan tetapi hubungan yang

sebaliknya tidak selalu berlaku, yaitu kenaikan pendapatan nasional belum tentu menaikkan

ekspor oleh karena pendapatan nasional dapat mengalami kenaikan sebagai akibat

kenaikan pengeluaran rumah tangga, investasi perusahaan, pengeluaran pemerintah dan

penggantian barang impor dengan barang buatan dalam negeri.

Ciri yang baru diterangkan ini menyebabkan ekspor dipandang sebagai pengeluaran

otonomi- yaitu seperti yang diterangkan sebelumnya, adalah pengeluaran yang besarnya

tidak tergantung kepada pendapatan nasional. Dalam persoalan ini ciri ekspor adalah sama

dengan investasi perusahaan dan pengeluaran pemerintah, yaitu jumlahnya tidak ditentukan

oleh pendapatan nasional.


– Faktor-Faktor yang Menentukan Impor

Pada faktor yang menentukan ekspor dijelaskan bahwa hanya rumah tangga yang membeli

barang-barang dari luar negara. Dalam praktiknya tidaklah demikian. Barang buatan luar

negeri juga diimpor oleh sektor lain, yaitu oleh perusahan dan pemerintah. Perusahaan

mengimpor bahan mentah dan barang modal dari luar negeri. Pemerintah juga melakukan

hal yang sama, yaitu pemerintah menggunakan barang konsumsi dan barang modal yang

diimpor. Walau bagaimanapun dalam analisis makroekonomi diasumsikan bahwa impor

terutama dilakukan oleh rumah tangga. Maka fungsi impor sangat berhubungan dengan

pendapatan nasional. Yang dimkasudkan dengan fungsi impor adalah kurva yang

menggambarkan hubungan di antara nilai impor yang dilakukan dengan tingkat pendapatan

masyarakat dan pendapatan nasional yang dicapai. Seperti telah dinyatakan impor adalah

pengeluaran terpengaruh yang berarti semakin tinggi pendapatan nasional maka semakin

tinggi pula impor.


B. Keseimbangan Perekonomian Terbuka


Untuk menerangkan mengenai keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian

terbuka, analisis di sini akan menunjukkannya dengan membandingkan keseimbangan

dalam ekonomi tiga sektor dan ekonomi empat sektor. Akan ditunjukkan bagaimana

keseimbangan ekonomi tiga sektor akan mengalami perubahan apabila pengeluaran

agregat meliputi pula ekspor dan impor. Analisis akan dilakukan secara grafik dan dua

pendekatan akan digunakan: pendekatan pengeluaran agregat- penawaran agregat ( Y =

AE ) dan pendekatan suntikan-bocoran.

Sebelum keseimbangan pendapatan nasional dalam ekonomi terbuka diterangkan, terlebih

dahulu akan ditunjukkan syarat keseimbangan dalam perekonomian terbuka. Bagian ini juga

akan menerangkan dua hal berikut : (i) suatu contoh angka untuk menunjukkan

keseimbangan pendapatan, dan (ii) suatu contoh angka untuk menunjukkan keseimbangan

dalam perekonomian terbuka dan perubahan keseimbangan tersebut.


SYARAT KESEIMBANGAN PEREKONOMIAN TERBUKA

Keseimbangan pendapatan nasional akan dicapai pada keadaan di mana (i) penawaran

agregat sama dengan pengeluaran agregat, dan (ii) suntikan sama dengan bocoran. Uraian

berikut akan menerangkan bagaimana keadaan tersebut tercapai dalam perekonomian

terbuka.

– Penawaran dan Pengeluaran Agregat dalam Perekonomian Terbuka

Dalam perekonomian terbuka barang dan jasa yang diperjualbelikan di dalam negeri terdiri

dari dua golongan barang; (i) yang diproduksi di dalam negeri dan meliputi pendapatan

nasional (Y), dan (ii) yang diimpor dari luar negeri. Dengan demikian dalam perekonomian

terbuka penawaran agregat atau AS terdiri dari pendapatan nasional (Y) dan impor (M).

Dalam formula :


Uraian sebelum ini mengenai sirkulasi aliran pendapatan dalam perekonomian terbuka telah

menunjukkan bahwa pengeluaran agregat ( AE) meliputi lima komponen berikut :

pengeluaran rumah tangga ke atas barang produksi dalam negeri (Cdn), investasi swasta (I),

AS = Y + M


pengeluaran pemerintah (G), ekspor (X) dan pengeluaran ke atas impor (M). Dalam

persamaan :

AE = Cdn + I +G + X + M


Pengeluaran rumah tangga terdiri dari pengeluaran ke atas barang dalam negeri dan

pengeluaran ke atas barang impor. Maka dalam perekonomian terbuka berlaku persamaan

berikut :

C = Cdn + M


Berdasarkan persamaan diatas, persamaan AE boleh disederhanakan menjadi :

AE = C + I + G + X


Di mana nilai C meliputi pengeluaran ke atas produksi dalam negeri dan barang yang

diimpor.

Dalam setiap perekonomian (apakah ia terdiri dari dua sektor, tiga sektor atau empat sektor)

keseimbangan pendapatan nasional dicapai apabila penawaran agregat (AS) sama dengan

penggeluaran agregat (AE). Dengan demikian, dalam perekonomian terbuka keseimbangan

pendapatan nasional akan tercapai apabila :

Y + M = C + I + G + X

Atau :

Y = C + I + G + ( X – M )


Suntikan dan Bocoran dalam Perekonomian Terbuka


Dalam pendekatan suntikan-bocoran, keseimbangan pendapatan nasional dalam

perekonomian terbuka dicapai dalam keadaan berikut :

I + G + X = S + T + M


Uraian beikut menerangkan mengapa kesamaan tersebut perlu dicapai untuk menentukan

keseimbangan pendapatan nasional dalam perekonomian terbuka.


KESEIMBANGAN DALAM PEREKONOMIAN TERBUKA

Apabila dimisalkan perekonomian tersebut terdiri tiga sektor, keseimbangan pendapatan

nasional akan dicapai pada keadaan: Y = C + I + G. Dengan demikian pendapatan nasional

adalah Y. Apabila perekonomian ini berubah menjadi ekonomi terbuka, akan timbul dua

aliran pengeluaran baru, yaitu ekspor dan impor. Ekspor akan menambah pengeluaran

agregat manakala impor akan mengurangi pengeluaran agregat. Dengan demikian, apabila

perekonomian berubah dari ekonomi tertutup ke ekonomi terbuka, pengeluaran agregat

akan bertambah sebanyak ekspor neto, yaitu sebanyak ( X – M). Nilai ekspor neto ini perlu

ditambahkan kepada fungsi pengeluaran agregat untuk perekonomian tertutup ( AE = C + I

+ G ) dan akan diperoleh fungsi pengeluaran agregat untuk ekonomi empat sektor , yaitu :

AE = C + I + G + ( X – M ).

Sebagai akibat dari perubahan ini keseimbangan pendapatan nasional pindah dari Eo

menjadi E1 , dan menyebabkan pendapatan nasional meningkat dari Y3 (pendapatan

nasional dalam perekonomian tertutup ) menjadi Y4 (pendapatan nasional untuk

perekonomian terbuka). Patut disadari bahwa fungsi AE = C + I +G + ( X – M ) tidak sejajar

dengan AE = C + I + G dan dengan fungsi konsumsi (C). Keadaan demikian berlaku karena

impor (M) nilainya sebanding (proportional) dengan pendapatan nasional, maka fungsi AE =

C + I +G + ( X – M ) lebih landai.

Keseimbangan pendapatan nasional menurut suntikan-bocoran yaitu apabila dimisalkan

ekonomi terdiri dari tiga sektor, keseimbangan dicapai pada Eo yaitu apabila S + T = I + G

dan pendapatan nasional adalah Y3. Perubahan dari perekonomian tertutup menjadi

perekonomian terbuka, menyebabkan :


(i) Suntikan bertambah sebanyak X, dari I + G menjadi I + G + X. Perubahannya sejajar

karena ekspor adalah pengeluaran otonomi.

(ii) Bocoran bertambah sebanyak M, dari S + T , menjadi S + T + M. Fungsi S + T + M

bermula dari garis asal S + T dan semakin menjauhi S + T karena M adalah pengeluaran

terpengaruh ( sebanding dengan pendapatan nasional ).

Dengan demikian, efek dari perubahan dalam (i) dan (ii) dalam perekonomian terbuka

keseimbangan akan dicapai dar E3, yaitu pada persilangan di antara I + G + X dan S + T +

M. Maka pendapatan nasional dari ekonomi empat sektor adalah Y4.


Dalam perekonomian terbuka pendapatan nasional adalah sama dengan pengeluaran-

pengeluaran berikut : pengeluaran rumah tangga terhadap produksi dalam negeri, tabungan


rumah tangga, pajak perusahaan dan individu yang dibayar dan pengeluaran ke atas barang

impor. Dalam persamaan :

Y = Cdn + S + T + M

Oleh karena kesamaan di atas maka apabila Y = Cdn dengan sendirinya S + T + M = 0


PERUBAHAN-PERUBAHAN KESEIMBANGAN

Perubahan pengeluaran rumah tangga, perubahan komponen-komponen suntikan (I, G dan

X ) dan perubahan komponen-komponen bocoran ( S, T atau M ) akan menimbulkan

perubahan ke atas keseimbangan pendapatan nasional. Kenaikan dalam pengeluaran

rumah tangga, investasi, pengeluaran pemerintah atau ekspor akan menaikkan pendapatan

nasional. Kenaikan pengeluaran agregat juga akan menimbulkan proses multiplier sehingga

pada akhirnya menyebabkan pertambahan pendapatan nasional adalah lebih besar dari

pertambahan pengeluaran agregat yang berlaku. Dalam ekonomi empat sektor nilai

multiplier adalah lebih kecil dari dalam ekonomi tiga sektor. Sebabnya adalah karena dalam

perekonomian terbuka dimisalkan impor adalah sebanding dengan pendapatan nasional,

yaitu persamaan impor adalah M = m Y. Nilai m menyebabkan tingkat “bocoran” (presentasi

dari pertambahan pendapatan nasional yang tidak dibelanjakan kembali untuk menimbulkan

proses multiplier selanjutnya ) menjadi bertambah besar.

Perubahan komponen yang meliputi bocoran ( S, T atau M ) akan menimbulkan akibat yang

sebaliknya dari yang ditimbulkan oleh komponen pengeluaran agregat. Kenaikan tabungan,


atau pajak atau impor akan mengurangi pendapatan nasional. Proses multiplier akan

menyebabkan pendapatan nasional berkurang lebih besar dari kenaikan bocoran


Ringkasan

1. Ekonomi Empat Sektor adalah Perekonomian yang menjalankan kegiatan

ekspor dan impor. (Perekonomian Terbuka)

2. Syarat Keseimbangan Pendapatan Nasional dalam perekonomian terbuka

akan dicapai pada keadaan dimana (i) Penawaran Agregat sama dengan

pengeluaran Agregat, dan (ii) Suntikan sama dengan Bocoran

3. Dalam ekonomi empat sector nilai multiplier adalah lebih kecil dibandingkan

dengan ekonomi tiga sector disebabkan karena dalam perekonomian terbuka

dimisalkan import adalah sebanding dengan pendapatan nasional, yaitu

persamaan import adalah M = m Y. nilai m menyebabkan tingkat “bocoran”

(presentasi dari pertambahan pendapatan nasional yg tidak dibelanjakan

kembali untuk menimbulkan proses multiplier selanjutnya0 menjadi

bertambah besar. Perubahan komponen yang melipti bocoran ( S, T atau M)

akan menimbulkan akibat yg sebaliknya dari yang ditimbulkan oleh

komponen pengeluaran agregat. Kenaikan tabungan , atau pajak atu impor

akan mengurangi pendapatan nasional. Proses multiplier akan menyebabkan

pendapatan nasional berkurang lebih bresar dari kenaikan bocoran.

4. Diket : C = 100 + 0,8 Yd

T = 0,25

M = 0,10 Y

T = 0,25

I = 200

G = 200

X = 400

Y = C + I + G + X – M


= 100 + 0,8 (1-0,25)Y + 200 + 200 + 400 – 0,10Y

Y – 0,8 (1-0,25)Y + 0,10Y = 900


(1-0,8 (1-0,25) + 0,10)Y = 900

Ye = 1/1-0,8 (1-0,25) + 0,10 . 900

= 1/1-0,8 (0,75) + 0,10 . 900

= 1/1-0,6 + 0,10 . 900

= 1/0,5 . 900 = 1800


Yd = Y – T = Y – t.Y = 1800 – 0,25 (1800) = 1350

Z = 1/0,5 = 2


→ Keseimbangan Pendapatan Nasional :

T – G = t.Y – G = 0,25 (1800) – 200 = 250

→ Neraca Perdagangan = X – M = 400 – 0,10 ( 1800) = -220 (Defisit)

KESEIMBANGAN EKONOMI TIGA SEKTOR (2)

  Ekonomi Tiga Sektor adalah Perekonomian yang meliputi kegiatan dalam sector

perusahaan, rumah tangga, dan pemerintah. (Perekonomian tertutup)

 Aliran Pendapatan dan Pengeluaran, Campur tangan Pemerintah menimbulkan 3 jenis

aliran baru :

1. Pembayaran pajak oleh rumah tangga dan perusahaan kepada pemerintah.

Pembayaran pajak tersebut menimbulkan pendapatan kepada pihak pemerintah. Ia

merupakan sumbert pendapatan pemerintah yang utama.

2. Pengeluaran dari sector pemerintah ke sector perusahaan. Aliran ini menggambarkan

nilai pengeluaran pemerintah ke atas barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan

oleh sector perusahaan.

3. Aliran pendapatan dari sector pemerintah ke asektor rumah tangga. Aliran ini timbul

sebagai aklibat dari pembayaran ke atas konsumsi faktor-faktor produkasi yang

dimiliki sector rumah tangga oleh pemerintah.

 Ciri – ciri aliran pendapatan dan pengeluaran :

 Pembayaran oleh sector perusahaan sekarang dapat dibedakan menjadi 2 jenis :

1. Pembayaran kepada sector rumah tangga sebagai pendapatan kepada

kepada faktor-faktor produksi

2. Pembayaran pajak pendapatan perusahaan kepada pemerintah

 Pendapatan yang diterima rumah tangga sekarang berasal dari 2 sumber :


1. Pembayaran gaji dan upah, sewa, bunga dan untung oleh perusahaan

2. Dari pembayaran gaji dan upah oleh pemeintah

 Pemerinta menerima pendapatan berupa pajak dari perusahaan dan dari rumah

tangga. Pendapatan tersebut akan digunakaan untuk membayar gaji dan upah

pegawai dan untuk membeli barang-barang dan jasa-jasa.

 Pendapatan yang diterima ruma tangga (Y) akan digunakan untuk memenuhi 3

kebutuan :

1. Membayar membiayai pengeluaran konsumsi (C)

2. Disimpan sebagai tabungan (S)

3. Membayar pajak pendapatan rumah tangga (T).

Dalam persamaan Y = C + S + T

 Syarat Keseimbangan 3 Sektor :

 Pendapatan yang diterima rumah tangga (Y) akan digunakan untuk memenuhi

tiga kebutuhan : Membayar membiayai pengeluaran konsumsi (C), disimpan

sebagai tabungan (S),dan membayar pajak pendapatan rumah tangga (T).


Y = C + S + T


 Pengeluaran Agregat (AE) telah menjadi bertamba banyak jenisnya, yaitu

disamping pengeluran konsumsi (C) dan Investasi (I), sekarang termasuk pula

pengeluaran pemerintah (G).


AE = C + I + G


 Kegiatan sector perusahaan untuk memproduksi barang dan jasa akan

mewujudkan aliran pedapatan ke sector rumah tangga (gajio dan upah, sewa,

bunga dan keuntungan) semua nilainya dengan pendapatan nasional (Y)

 Pendapatan rumah tangga akn digunakan 3 tujuan : membiayai konsumsi (C),

ditabung (S) dan membayar pajak (T).


Y = C + S + T

KESEIMBANGAN EKONOMI TIGA SEKTOR

 1. Yang maksud ekonomi tiga sector yaitu perekonomian yang meliputi kegiatan dalam

sector perusahaan, rumah tangga dan pemerintah. Atau disebut juga sebagai

perekonomian tertutup.

2. - Pajak Langsung yaitu pajak yang pembayarannya arus ditanggung sendiri oleh wajib

pajak dan tidak dapat dialihkan kepada pihak lain. sedangkan

- Pajak Tidak Langsung yaitu : pajak yang pembayarannya dapat dialihkan kepada

pihak lain

3. - Pajak Proporsional yaitu pajak yang presentasinya sama untuk pendapatan yang

berbeda-beda. Sedangkan

- Pajak Progresif yaitu pajak yang presentasenya bergabung pada besarnya pendaptan

yang diterima oleh wajib pajak.

4. - Pendapatan Nasional dengan pendekatan agregat :

Y = C + I + G

Y = 50 + 0,50Y + 100 +180

0,50Y = 330

Y = 660

- Pendekatan Nasional dengan pendekatan suntikan-bocoran :

I + G = S + T

100 + 180 = -50 + 0,30Y + 0,20Y

280 + 50 = 0,30Y + 0,20Y

330 = 0,50Y

Y = 660

MANAJEMEN MODAL

 1. Pengertian Modal

Menurut Lukas Setia Atmaja (2003:19), mendefinisikan modal sebagai “Dana

yang digunakan untuk membiayai pengadaan aktiva dan operasi perusahaan. Modal

terdiri dari item-item yang ada di sisi kanan suatu neraca, yaitu hutang, saham biasa,

saham preferen, dan laba ditahan”.

Kemudian Agnes Sawir (2005:129), menyebutkan bahwa “Modal kerja adalah

keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan

sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan

sehari-hari”.

Setiap perusahaan selalu memerlukan modal kerja yang akan digunakan untuk

membiayai aktivitas perusahaan sehari-hari. Kekurangan uang tunai (kas) akan

menyebabkan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban jangka pendeknya

sedangkan kekurangan persediaan akan menyebabkan perusahaan tidak memperoleh

keuntungan karena pembeli tidak jadi membeli produk perusahaan sehingga tidak

terjadi piutang tersebut S. Munawir (2004:116).

Menurut S. Munawir (2004:201), manajemen keuangan jangka pendek adalah

manajemen aktiva lancar dan pasiva lancar perusahaan. Sasaran manajemen

keuangan jangka pendek adalah untuk mengelola setiap aktiva lancar perusahaan

(kas, surat berharga, piutang dan persediaan) dan pasiva lancar (hutang dagang,

wesel bayar, kewajiban yang masih harus dibayar) untuk mencapai keseimbangan

antara laba dan risiko yang memberi kontribusi positif terhadap nilai perusahaan.

Misalnya:

1. Aktiva lancar dalam jumlah besar akibatnya mengurangi laba.

2. Aktiva lancar dalam jumlah kecil akibatnya meningkatkan risiko tidak dapat

membayar.

3. Hutang lancar dalam jumlah besar akibatnya dapat meningkatkan risiko yaitu tidak

dapat membayar pada saat jatuh tempo S. Munawir (2004:201).

Mengenai pengertian modal kerja kemudian Bambang Riyanto (2001:57)

mengemukakan adanya beberapa konsep yaitu:

1. Konsep Kuantitatif

Modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar.


Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto (gross working

capital).

2. Konsep Kualitatif

modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang

benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa

mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas

utang lancarnya. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto

(net working capital).

3. Konsep Fungsionil

Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan

pendapatan (income). Setiap dana yang dikerjakan atau digunakan dalam

perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Ada sebagian

dana yang digunakan dalam suatu periode akuntansi tertentu yang seluruhnya

langsung menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current income) dan

ada sebagian dana lain yang juga digunakan selama periode tersebut tetapi tidak

seluruhnya digunakan untuk menghasilkan current income. Bambang Riyanto

(2001:57).

1.1. Jenis-jenis Modal Kerja


Mengenai modal kerja Taylor dalam Agnes Sawir (2005:132) menggolongkan

modal kerja, yaitu:

1. Modal kerja permanen

Modal kerja permanen (permanent working capital) yaitu modal kerja yang

harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan

kata lain modal kerja secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.

Permanent working capital dapat dibedakan yaitu:

a. Modal kerja primer (primary working capital) yaitu modal kerja minimum yang

harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.

b. Modal kerja normal (normal working capital) yaitu jumlah modal kerja yang

diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.

2. Modal kerja variabel

Modal kerja variabel (variabel working capital) yaitu jumlah modal kerja yang

jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja ini

dibedakan antara:

a. Modal kerja musiman (seasonal working capital) yaitu modal kerja yang

jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.

b. Modal kerja siklis (cyclical working capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya


berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.

c. Modal kerja darurat (emergency working capital) yaitu modal kerja yang

besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui

sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan

ekonomi yang mendadak), Agnes Sawir (2005:132).


1.2. Penentuan Besarnya Modal Kerja


Menurut Bambang Riyanto (2001:64) besar kecilnya kebutuhan modal kerja

tergantung kepada dua faktor yaitu:

1. Pengeluaran kas rata-rata setiap harinya atau perputaran tetap

Dengan makin besarnya jumlah pengeluaran kas setiap harinya

mengakibatkan jumlah kebutuhan modal kerja menjadi semakin besar pula.

Jumlah pengeluaran setiap harinya yang tetap, dengan makin lamanya periode

perputarannya mengakibatkan jumlah modal kerja yang dibutuhkan adalah

semakin besar.

2. Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja

Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah keseluruhan

jumlah dari periode-periode aktivitas perusahaan yang meliputi jangka waktu

pemberian kredit beli, lama penyimpanan bahan mentah di gudang, lamanya

proses produksi, lamanya barang jadi simpanan di gudang dan jangka waktu

penerimaan piutang. Pengeluaran setiap harinya merupakan jumlah pengeluaran

kas rata-rata setiap harinya untuk keperluan pembelian bahan mentah, bahan

pembantu, pembayaran upah buruh dan biaya-biaya lainnya.

SISTEM BIAYA STANDAR

 

Biaya Standar adalah biaya yang ditentukan dimuka, yang merupakan jumlah biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk membuat satu satuan produk atau membiayai kegiatan tertentu, dibawah asumsi kondisi ekonomi, efisiensi dan faktor-faktor lain tertentu.

 

Standard cost digunakan untuk:

1.       Membuat budget

2.       Mengontrol cost dan mengukur efisiensi

3.       Memudahkan prosedur penetapan biaya dan pembuatan laporan biaya

4.       Menetapkan cost material, WIP, dan finished good

5.       Menetapkan harga penawaran dan harga jual.

 

 

Prosedur Penentuan Biaya Standar Biaya Bahan Baku Standar, terdiri atas :

1.          Masukan fisik yang diperlukan untuk memproduksi sejumlah keluaran fisik tertentu, atau lebih dikenal dengan nama kuantitas standar.

2.         Harga satuan masukan fisik tersebut, atau disebut pula harga standar.


Kuantitas Standar Bahan Baku dapat ditentukan dengan menggunakan :

1.         Penyelidikan teknis.

2.         Analisis catatan masa lalu dalam bentuk :

a)              Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku untuk produk atau pekerjaan yang sama dalam periode tertentu dimasa lalu.

b)             Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku dalam pelaksanaan pekerjaan yang paling baik dan yang paling buruk dimasa lalu.

c)              Menghitung rata-rata pemakaian bahan baku dalam pelaksanaan pekerjaan yang paling baik.

 

Harga yang dipakai sebagai harga standar dapat berupa :

a.              Harga yang diperkirakan akan berlaku di masa yang akan datang, biasanya untuk jangka waktu 1 tahun.

b.             Harga yang berlaku pada saat penyusunan standar.

c.              Harga yang diperkirakan akan merupakan harga normal dalam jangka panjang.

 

Biaya Tenaga Kerja Standar

Jam Tenaga Kerja Standar dapat ditentukan dengan cara :

1.  Menghitung rata-rata jam kerja yang dikonsumsi dalam suatu pekerjaan dari Kartu Harga Pokok (Cost Sheet) periode yang lalu.

2.  Membuat test-run operasi produksi dibawah keadaan normal yang diharapkan.

3.  Mengadakan penyelidikan gerak dan waktu dari berbagai kerja karyawan dibawah keadaan nyata yang diharapkan.

4.  Mengadakan taksiran yang wajar, yang didasarkan pada pengalaman dan pengetahuan operasi produksi dan produk

 

Biaya Overhead Pabrik Standar

Tarif Overhead Standar dihitung dengan membagi jumlah biaya overhead yang dianggarkan pada kapasitas normal dengan kapasitas normal. Untuk pengendalian BOP dalam sistem biaya standar, perlu dibuat anggaran


fleksibel, yaitu anggaran biaya untuk beberapa kisaran (range) kapasitas.  Tarif BOP standar menggabungkan biaya tetap dan variabel dalam satu tarif yang didasarkan pada tingkat kegiatan tertentu. Sebagai akibatnya dalam tarif ini semua BOP diperlakukan sebagai biaya variabel. Di lain pihak anggaran fleksibel memisahkan faktor-faktor biaya tetap dan variabel, dan memperlakukan BOP tetap sebagai biaya yang jumlahnya tetap dalam volume tertentu.

 

Analisis Penyimpangan Biaya Sesungguhnya Dari Biaya Standar Penyimpangan biaya sesungguhnya dari biaya standar disebut dengan selisih (variance). Selisih biaya sesungguhnya dengan biaya standar dianalisis, dan dari analisi ini diselidiki penyebab terjadinya selisih yang merugikan.

 

Analisis Selisih Biaya Produksi Langsung

Ada 3 model analisis selisih biaya produksi langsung :

1.     Model Satu Selisih (The One-Way Model)

Dalam model ini, selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar tidak dipecah kedalam selisih harga dan selisih kuantitas, tetapi hanya ada satu macam selisih yang merupakan gabungan antara selisih harga dengan selisih kuantitas.

 

 

St = ( HSt x KSt ) – ( HS x KS )

 
Hasil perhitungan selisih diberi tanda L (selisih Laba) dan R (selisih Rugi). Analisis selisih dalam model ini dapat digambarkan dengan rumus berikut ini :

 

 

 

Diketahui :

St         =    Total Selisih Hst     =            Harga Standar

Kst       =    Kuantitas Standar HS         =            Harga Sesungguhnya

KS       =    Kuantitas Sesungguhnya


 

2.       Model Dua Selisih (The Two-Way Model)

a.  Selisih antara biaya sesungguhnya dengan biaya standar dipecah menjadi 2 macam selisih, yaitu selisih harga dan selisih kuantitas atau efisiensi.

b.  Rumus perhitungan selisih dapat dinyatakan sebagai berikut :

 

 

Perhitungan Selisih Harga              Perhitungan Selisih Kuantitas

Text Box: SH = ( HSt – HS ) x KS
Text Box: SK = ( KSt – KS ) x HSt

Diketahui :

SH      =    Selisih Harga                       SK     = Selisih Kuantitas Hst =           Harga Standar                            Kst    = Kuantitas Standar

HS      =    Harga Sesungguhnya          KS     = Kuantitas Sesungguhnya

 

 

3.       Model Tiga Selisih (The Two-Way Model)

Selisih antara biaya standar dengan biaya sesungguhnya dipecah menjadi 3 macam selisih berikut ini : Selisih Harga, Selisih Kuantitas, Selisih Harga / Kuantitas.

Hubungan harga dan kuantitas sesungguhnya dapat terjadi dengan kemungkinan berikut ini :

a)              Harga dan Kuantitas Standar masing-masing lebih tinggi atau lebih rendah dari harga dan kuantitas sesungguhnya.

Rumus perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi Harga Standar dan Kuantitas Standar masing-masing ” Lebih  Rendah ”  dari Harga Sesungguhnya dan Kuantitas Sesungguhnya, dinyatakan dalam persamaan berikut ini :

 

Perhitungan Selisih Harga

Text Box: SH = ( HSt – HS ) x KSt


 

 

Perhitungan Selisih Kuantitas

Text Box: SK = ( KSt – KS ) x HSt

 

 

Perhitungan Selisih Gabungan yang merupakan Selisih Harga

/Kuantitas

Text Box: SHK = ( HSt – HS ) x ( KSt – KS )

 

Rumus perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi Harga Standar dan Kuantitas Standar masing-masing ” Lebih Tinggi ” dari Harga Sesungguhnya dan Kuantitas Sesungguhnya, dinyatakan dalam persamaan berikut ini :

 

Perhitungan Selisih Harga

Text Box: SH = ( HSt – HS ) x KS

 

 

Perhitungan Selisih Kuantitas

Text Box: SK = ( KSt – KS ) x HS

 

Perhitungan Selisih Gabungan yang merupakan Selisih Harga

/Kuantitas

Text Box: SHK = ( HSt – HS ) x ( KSt – KS )


b)             Harga Standar “ Lebih Rendah “ dari Harga Sesungguhnya, namun sebaliknya Kuantitas Standar ” Lebih Tinggi “ dari Kuantitas Sesungguhnya.

Selisih gabungan yang merupakan selisih harga / kuantitas tidak akan terjadi. Dengan demikian perhitungan selisih harga dan kuantitas dalam kondisi seperti ini dengan model 3 selisih dilakukan dengan rumus sebagai berikut :

Perhitungan Selisih Harga

Text Box: SH = ( HSt – HS ) x KS

 

Perhitungan Selisih Kuantitas

Text Box: SK = ( KSt – KS ) x HSt

 

Selisih Harga / Kuantitas sama dengan nol

 

c)               Harga Standar “ Lebih Tinggi “ dari Harga Sesungguhnya, namun sebaliknya Kuantitas Standar ” Lebih Rendah “ dari Kuantitas Sesungguhnya.

Selisih gabungan tidak akan terjadi. Perhitungan selisih dengan model 3 selisih dilakukan dengan rumus sebagai berikut :

 

Perhitungan Selisih Harga

Text Box: SH = ( HSt – HS ) x KSt

 

Perhitungan Selisih Kuantitas

Text Box: SK = ( KSt – KS ) x HS

 

Selisih Harga / Kuantitas sama dengan nol


CONTOH SOAL

PT. CAHAYA MENTARI pada tahun 1996 memproduksi produk jadi sebanyak  120.000  unit.   Bahan  baku   yang  dibeli  dari  pemasok  sebanyak

750.000  kg,  sedangkan  yang  digunakan  dalam  proses  produksi  sebanyak

700.000 kg. Dalam menghasilkan produk, ditetapkan standar kuantitas bahan baku sebanyak 6 kg / unit dengan standar harga Rp. 2.150,- / kg, lalu ditentukan pula standar efisiensi tenaga kerja langsung 3 jam / unit dengan standar tarif upah Rp. 2.400,- / jam . Namun kenyataan yang terjadi, harga bahan baku sesungguhnya hanya Rp. 2.100,- / kg dengan jumlah jam tenaga kerja sesungguhnya selama 365.000 jam dengan tarif Rp. 2.500, / jam. Diminta Carilah :

1.       Selisih harga bahan baku.

2.       Selisih kuantitas bahan baku.

3.       Selisih efisiensi tenaga kerja langsung.

4.       Selisih Tarif tenaga kerja langsung

5.       Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar serta pengalokasian selisih gaji dan upah dengan mengabaikan pajak atas gaji dan upah

 

PENYELESAIAN :

1.     Selisih Harga Bahan Baku :

Selisih Harga = ( Harga Ssg – Harga Std ) x Kuantitas Ssg

= ( Rp. 2.100 – Rp. 2.150 ) x 750.000

= Rp. 37.500.000,- ( Laba )

2.     Selisih Kuantitas Bahan Baku :

Selisih Kuantitas    = [ Kuantitas Ssg – Kuantitas Std yang ditetapkan ] x Harga Std

= [ 700.000 – ( 6 x 120.000 ) ] x Rp. 2.150

= Rp. 43.000.000 ( Laba )

3.     Selisih Efisiensi Jam Tenaga Kerja Langsung :

Selisih Jam Kerja = [ Jam kerja Ssg – Jam kerja Std yang ditetapkan ] x Tarif upah Std


= [ 365.000 – ( 3 x 120.000 ) ] x Rp. 2.400

= Rp. 12.000.000,- ( Rugi )

4.     Selisih Tarif Upah Tenaga Kerja Langsung :

Selisih Tarif Upah = [ Tarif upah Ssg – Tarif upah Std ] x Jam kerja Ssg

= [ Rp. 2.500 – Rp. 2.400 ] x 365.000

= Rp. 36.500.000,- ( Rugi )

5.     Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar :

Gaji dan upah  ( 2.500 x 365.000)            Rp.  912.500.000,-     

Berbagai perkiraan hutang                                      Rp. 912.500.000,-

 

 

Jurnal untuk mengalokasikan gaji dan upah serta selisih-selisihnya : Barang dalam proses ( 360.000 x 2.400 ) Rp. 864.000.000,-                    — Selisih efisiensi TK langsung                               Rp.   12.000.000,-       — Selisih tarif TL langsung                                              Rp.   36.500.000,-      

Gaji dan upah                                                          Rp. 912.500.000,-

 

 

B.    SOAL LATIHAN/TUGAS

1.       PT. GEMERLAP BINTANG pada tahun 1995 memproduksi produk jadi sebanyak 20.000 unit. Bahan baku yang dibeli dari pemasok sebanyak

70.000 kg, sedangkan yang digunakan dalam proses produksi sebanyak

60.000 kg.

Dalam menghasilkan produk, ditetapkan standar kuantitas bahan baku sebanyak 4 kg / unit dengan standar harga Rp. 1.100,- / kg, lalu ditentukan pula standar efisiensi tenaga kerja langsung 2 jam / unit dengan standar tarif upah Rp. 4.600,- / jam . Namun kenyataan yang terjadi, harga bahan baku sesungguhnya hanya Rp. 1.050,- / kg dengan jumlah jam tenaga kerja sesungguhnya selama 41.800 jam dengan tarif Rp. 4.800, / jam.

Diminta :

a.       Selisih harga bahan baku.

b.       Selisih kuantitas bahan baku.

c.       Selisih efisiensi tenaga kerja langsung.

d.       Selisih Tarif tenaga kerja langsung


e.       Jurnal untuk mencatat gaji dan upah yang harus dibayar serta pengalokasian selisih gaji dan upah.

2.       CV. CAHAYA MENTARI yang berproduksi dengan 2 jenis bahan baku dan memiliki 2 dept. produksi dimana Bahan Baku hanya dipakai pada Dept. I dan BOP pada Dept. II. Biaya standar untuk menentukan biaya produksi, berdasarkan data-data sebagai berikut :

a.       Harga bahan distandarkan Rp. 100,-/kg untuk bahan A dan Rp. 400,-

/kg untuk bahan B ditambah biaya penanganan masing-masing 10 %. Untuk membuat satu unit produk jadi diperlukan 2,5 kg bahan A dan 2 kg bahan B.

b.       Jumlah tenaga kerja yang menangani langsung produksi adalah 40 orang di Dept. I dan 100 orang di Dept. II, dimana diperkirakan tiap pekerja bisa bekerja efektif 35 jam / minggu. Upah dan gaji total per minggu Dept. I Rp. 280.000 dan Dept. II Rp. 875.000,- ditambah 20

% sebagai cadangan premi lembur dan premi lain-lain. Dalam Dept. I bahan diolah selama 2,5 jam dan dalam Dept. II selama 2 jam.

c.       Kapasitas normal produksi adalah 1.000 unit ( 100 % ) atau 4.000 jam mesin dengan batas terendah produksi 80 % dan kapasitas penuh 120

%. BOP yang terdiri dari overhead tetap dan variabel pada kapasitas normal adalah :

Variabel              Tetap

 

Upah pegawai

Rp.

320.000,-

Bahan pembantu

Rp.

140.000,-

Lain-lain

Rp.

20.000,-

Penyusutan Mesin                             Rp.  190.000,-

Listrik                                                Rp.    50.000,- Pemeliharaan, dll                             Rp.    80.000,-

Rp.  480.000,- Rp. 320.000,-

 

Dari data-data tersebut anda diminta untuk menyusun biaya standar per unit produk jadi dan fleksible budget untuk BOP pada kapasitas 80 %, 100

%, 120 %.


3.

 

Puray Co. menghasilkan satu produk dengan standar cost sebagai berikut:

 

Direct materials: 20 yards at $1,35 per yard

 

 

 

 

$27

Direct labor: 4 jam at $9 per jam

36

FOH: 4 DLH at $7.50 per jam; ratio variable: fixed adalah 2:1

30

Total standar cost per unit output

$93

Standar cost berdasarkan kapasitas normal 2.400 jam. Informasi untuk bulan Juli:

Unit yang diproduksi

500

Pembelian direct material:18.000 yards

dengan harga$1,38 per yard

$24.840

Direct material yang digunakan: 9.500 yards

 

Direct labor: 2.100 jam dengan tariff $9,15

per jam

19.215

FOH aktual

16.650

Diminta:

a.              Hitung tariff variable FOH per DLH dan total fixed FOH berdasarkan kapasitas normal.

b.             Hitung varians-varians berikut dan tentukan menguntungkan atau tidak.

1)             Materials purchase price dan quantity variance.

2)             Labor rate dan efficiency variance

3)             FOH controllable dan volume variance.

 

 

4.  Withers Co. menggunakan standard process costing pada departemen produksi. Material A diberikan pada awal proses dan material B diberikan ketika biaya konversi sudah mencapai 90%. Pemeriksaan dilakukan pada akhir proses dan seluruh unit yang rusak dianggap abnormal. Standar cost unit yang rusak dibebankan pada akun expense periode berjalan. Kapasitas normal 7.800 DLH per bulan. Standar cost


per unit adalah:

 

Material A: 4 galon dengan harga $1,20

$4,80

Material B: 2 square feet dengan harga $0,70

1,40

Direct labor: 1 jam dengan tariff $11,50

11,50

Variabel FOH: 1 jam dengan tariff $1,80

1,80

Fixed FOH: 1 jam dengan tariff $5,00

5,00

Total

$24,50

 

 

Data tambahan:

a.              WIP awal 3.000 unit (biaya konversi 331/3%)

b.             Unit yang mulai diproses 11.000 unit

c.              Unit yang selesai selama satu bulan 8.000 unit

d.             WIP akhir 5.000 unit (biaya konversi 40%)

e.              Biaya actual:

 

Material A yang digunakan

50.000 galon dengan harga $1,00

Material B yang digunakan

18.000 sq. ft. dengan harga $0,75

Direct labor

10.200 jam dengan tariff $12,00

FOH

$60.100

Diminta:

a.              Hitung equivalent unit untuk Material A, Material B, dan conversion cost.

b.             Hitung materials price usage dan quantity variances untuk masing- masing material, labor rate dan efisiensi variances, FOH controllable dan volume variances – favorable atau unfavorable.

c.              Hitung FOH empat variances.

 

 

C.   DAFTAR PUSTAKA

Horngren, Datar, and Foster, 2003. Cost Accounting-11edition. Prentice Hall Business Publishing, New Jersey

Ibnu S, Bambang Suripto, 1993, Akuntansi Biaya Seri Diktat Kuliah, Jakarta: Gunadarma.


Bastian Bustami, Nurlela. 2013. Akuntansi Biaya. Jakarta: Mitra Wacana Media.