Senin, 09 Oktober 2023

MANAJEMEN MODAL

 1. Pengertian Modal

Menurut Lukas Setia Atmaja (2003:19), mendefinisikan modal sebagai “Dana

yang digunakan untuk membiayai pengadaan aktiva dan operasi perusahaan. Modal

terdiri dari item-item yang ada di sisi kanan suatu neraca, yaitu hutang, saham biasa,

saham preferen, dan laba ditahan”.

Kemudian Agnes Sawir (2005:129), menyebutkan bahwa “Modal kerja adalah

keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan

sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan

sehari-hari”.

Setiap perusahaan selalu memerlukan modal kerja yang akan digunakan untuk

membiayai aktivitas perusahaan sehari-hari. Kekurangan uang tunai (kas) akan

menyebabkan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban jangka pendeknya

sedangkan kekurangan persediaan akan menyebabkan perusahaan tidak memperoleh

keuntungan karena pembeli tidak jadi membeli produk perusahaan sehingga tidak

terjadi piutang tersebut S. Munawir (2004:116).

Menurut S. Munawir (2004:201), manajemen keuangan jangka pendek adalah

manajemen aktiva lancar dan pasiva lancar perusahaan. Sasaran manajemen

keuangan jangka pendek adalah untuk mengelola setiap aktiva lancar perusahaan

(kas, surat berharga, piutang dan persediaan) dan pasiva lancar (hutang dagang,

wesel bayar, kewajiban yang masih harus dibayar) untuk mencapai keseimbangan

antara laba dan risiko yang memberi kontribusi positif terhadap nilai perusahaan.

Misalnya:

1. Aktiva lancar dalam jumlah besar akibatnya mengurangi laba.

2. Aktiva lancar dalam jumlah kecil akibatnya meningkatkan risiko tidak dapat

membayar.

3. Hutang lancar dalam jumlah besar akibatnya dapat meningkatkan risiko yaitu tidak

dapat membayar pada saat jatuh tempo S. Munawir (2004:201).

Mengenai pengertian modal kerja kemudian Bambang Riyanto (2001:57)

mengemukakan adanya beberapa konsep yaitu:

1. Konsep Kuantitatif

Modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar.


Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto (gross working

capital).

2. Konsep Kualitatif

modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang

benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa

mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas

utang lancarnya. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto

(net working capital).

3. Konsep Fungsionil

Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan

pendapatan (income). Setiap dana yang dikerjakan atau digunakan dalam

perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Ada sebagian

dana yang digunakan dalam suatu periode akuntansi tertentu yang seluruhnya

langsung menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current income) dan

ada sebagian dana lain yang juga digunakan selama periode tersebut tetapi tidak

seluruhnya digunakan untuk menghasilkan current income. Bambang Riyanto

(2001:57).

1.1. Jenis-jenis Modal Kerja


Mengenai modal kerja Taylor dalam Agnes Sawir (2005:132) menggolongkan

modal kerja, yaitu:

1. Modal kerja permanen

Modal kerja permanen (permanent working capital) yaitu modal kerja yang

harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan

kata lain modal kerja secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.

Permanent working capital dapat dibedakan yaitu:

a. Modal kerja primer (primary working capital) yaitu modal kerja minimum yang

harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.

b. Modal kerja normal (normal working capital) yaitu jumlah modal kerja yang

diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.

2. Modal kerja variabel

Modal kerja variabel (variabel working capital) yaitu jumlah modal kerja yang

jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja ini

dibedakan antara:

a. Modal kerja musiman (seasonal working capital) yaitu modal kerja yang

jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.

b. Modal kerja siklis (cyclical working capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya


berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.

c. Modal kerja darurat (emergency working capital) yaitu modal kerja yang

besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui

sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan

ekonomi yang mendadak), Agnes Sawir (2005:132).


1.2. Penentuan Besarnya Modal Kerja


Menurut Bambang Riyanto (2001:64) besar kecilnya kebutuhan modal kerja

tergantung kepada dua faktor yaitu:

1. Pengeluaran kas rata-rata setiap harinya atau perputaran tetap

Dengan makin besarnya jumlah pengeluaran kas setiap harinya

mengakibatkan jumlah kebutuhan modal kerja menjadi semakin besar pula.

Jumlah pengeluaran setiap harinya yang tetap, dengan makin lamanya periode

perputarannya mengakibatkan jumlah modal kerja yang dibutuhkan adalah

semakin besar.

2. Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja

Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah keseluruhan

jumlah dari periode-periode aktivitas perusahaan yang meliputi jangka waktu

pemberian kredit beli, lama penyimpanan bahan mentah di gudang, lamanya

proses produksi, lamanya barang jadi simpanan di gudang dan jangka waktu

penerimaan piutang. Pengeluaran setiap harinya merupakan jumlah pengeluaran

kas rata-rata setiap harinya untuk keperluan pembelian bahan mentah, bahan

pembantu, pembayaran upah buruh dan biaya-biaya lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar