1. Pengertian Modal
Menurut Lukas Setia Atmaja (2003:19), mendefinisikan modal sebagai “Dana
yang digunakan untuk membiayai pengadaan aktiva dan operasi perusahaan. Modal
terdiri dari item-item yang ada di sisi kanan suatu neraca, yaitu hutang, saham biasa,
saham preferen, dan laba ditahan”.
Kemudian Agnes Sawir (2005:129), menyebutkan bahwa “Modal kerja adalah
keseluruhan aktiva lancar yang dimiliki perusahaan, atau dapat pula dimaksudkan
sebagai dana yang harus tersedia untuk membiayai kegiatan operasi perusahaan
sehari-hari”.
Setiap perusahaan selalu memerlukan modal kerja yang akan digunakan untuk
membiayai aktivitas perusahaan sehari-hari. Kekurangan uang tunai (kas) akan
menyebabkan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban jangka pendeknya
sedangkan kekurangan persediaan akan menyebabkan perusahaan tidak memperoleh
keuntungan karena pembeli tidak jadi membeli produk perusahaan sehingga tidak
terjadi piutang tersebut S. Munawir (2004:116).
Menurut S. Munawir (2004:201), manajemen keuangan jangka pendek adalah
manajemen aktiva lancar dan pasiva lancar perusahaan. Sasaran manajemen
keuangan jangka pendek adalah untuk mengelola setiap aktiva lancar perusahaan
(kas, surat berharga, piutang dan persediaan) dan pasiva lancar (hutang dagang,
wesel bayar, kewajiban yang masih harus dibayar) untuk mencapai keseimbangan
antara laba dan risiko yang memberi kontribusi positif terhadap nilai perusahaan.
Misalnya:
1. Aktiva lancar dalam jumlah besar akibatnya mengurangi laba.
2. Aktiva lancar dalam jumlah kecil akibatnya meningkatkan risiko tidak dapat
membayar.
3. Hutang lancar dalam jumlah besar akibatnya dapat meningkatkan risiko yaitu tidak
dapat membayar pada saat jatuh tempo S. Munawir (2004:201).
Mengenai pengertian modal kerja kemudian Bambang Riyanto (2001:57)
mengemukakan adanya beberapa konsep yaitu:
1. Konsep Kuantitatif
Modal kerja menurut konsep ini adalah keseluruhan dari jumlah aktiva lancar.
Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja bruto (gross working
capital).
2. Konsep Kualitatif
modal kerja menurut konsep ini adalah sebagian dari aktiva lancar yang
benar-benar dapat digunakan untuk membiayai operasi perusahaan tanpa
mengganggu likuiditasnya, yaitu yang merupakan kelebihan aktiva lancar di atas
utang lancarnya. Modal kerja dalam pengertian ini sering disebut modal kerja neto
(net working capital).
3. Konsep Fungsionil
Konsep ini mendasarkan pada fungsi dari dana dalam menghasilkan
pendapatan (income). Setiap dana yang dikerjakan atau digunakan dalam
perusahaan adalah dimaksudkan untuk menghasilkan pendapatan. Ada sebagian
dana yang digunakan dalam suatu periode akuntansi tertentu yang seluruhnya
langsung menghasilkan pendapatan bagi periode tersebut (current income) dan
ada sebagian dana lain yang juga digunakan selama periode tersebut tetapi tidak
seluruhnya digunakan untuk menghasilkan current income. Bambang Riyanto
(2001:57).
1.1. Jenis-jenis Modal Kerja
Mengenai modal kerja Taylor dalam Agnes Sawir (2005:132) menggolongkan
modal kerja, yaitu:
1. Modal kerja permanen
Modal kerja permanen (permanent working capital) yaitu modal kerja yang
harus tetap ada pada perusahaan untuk dapat menjalankan fungsinya atau dengan
kata lain modal kerja secara terus menerus diperlukan untuk kelancaran usaha.
Permanent working capital dapat dibedakan yaitu:
a. Modal kerja primer (primary working capital) yaitu modal kerja minimum yang
harus ada pada perusahaan untuk menjamin kontinuitas usahanya.
b. Modal kerja normal (normal working capital) yaitu jumlah modal kerja yang
diperlukan untuk menyelenggarakan luas produksi yang normal.
2. Modal kerja variabel
Modal kerja variabel (variabel working capital) yaitu jumlah modal kerja yang
jumlahnya berubah-ubah sesuai dengan perubahan keadaan, dan modal kerja ini
dibedakan antara:
a. Modal kerja musiman (seasonal working capital) yaitu modal kerja yang
jumlahnya berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi musim.
b. Modal kerja siklis (cyclical working capital) yaitu modal kerja yang jumlahnya
berubah-ubah disebabkan karena fluktuasi konjungtur.
c. Modal kerja darurat (emergency working capital) yaitu modal kerja yang
besarnya berubah-ubah karena adanya keadaan darurat yang tidak diketahui
sebelumnya (misalnya adanya pemogokan buruh, banjir, perubahan keadaan
ekonomi yang mendadak), Agnes Sawir (2005:132).
1.2. Penentuan Besarnya Modal Kerja
Menurut Bambang Riyanto (2001:64) besar kecilnya kebutuhan modal kerja
tergantung kepada dua faktor yaitu:
1. Pengeluaran kas rata-rata setiap harinya atau perputaran tetap
Dengan makin besarnya jumlah pengeluaran kas setiap harinya
mengakibatkan jumlah kebutuhan modal kerja menjadi semakin besar pula.
Jumlah pengeluaran setiap harinya yang tetap, dengan makin lamanya periode
perputarannya mengakibatkan jumlah modal kerja yang dibutuhkan adalah
semakin besar.
2. Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja
Periode perputaran atau periode terikatnya modal kerja adalah keseluruhan
jumlah dari periode-periode aktivitas perusahaan yang meliputi jangka waktu
pemberian kredit beli, lama penyimpanan bahan mentah di gudang, lamanya
proses produksi, lamanya barang jadi simpanan di gudang dan jangka waktu
penerimaan piutang. Pengeluaran setiap harinya merupakan jumlah pengeluaran
kas rata-rata setiap harinya untuk keperluan pembelian bahan mentah, bahan
pembantu, pembayaran upah buruh dan biaya-biaya lainnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar