Ada dua pengertian modal kerja, yang pertama gross working capital, adalah keseluruhan aktiva lancar, sementara pengertian net working capital adalah kelebihan ktiva lancar di atas utang lancar.
Manajemen modal yang efektif menjadi sangat penting untuk pertumbuhan
kelangsungan perusahaan dalam jangka panjang. Apabila perusahaan kekurangan
modal kerja untuk memperluas penjualan dan meningkatkan produksinya, maka besar
kemungkinannya akan kehilangan pendapatan dan keuntungan. Perusahaan yang
tidak memiliki modal kerja yang cukup, tidak dapat membayar kewajiban jangka
pendek tepat pada waktunya dan akan menghadapi masalah likuiditas. Investasi modal
kerja merupakan proses terus-menerus selama perusahaan beroperasi, yang
dipengaruhi oleh:
1. Tingkat investasi aktiva lancar perusahaan
2. Proporsi utang jangka pendek yang digunakan
3. Tingkat investasi pada setiap jenis aktiva lancar
4. Sumber dana yang spesifik dan komposisi utang lancar yang harus dipertahankan
Semakin lama periode antara saat pengeluaran kas sampai penerimaan kembali,
maka kebutuhan modal kerja akan semakin besar. Periode itu bisa terjadi pembayaran
di muka bahan baku --- penerimaan bahan baku --- bahan baku disimpan --- proses
produksi --- disimpan sebelum dijual --- dijual secara kredit --- penerimaan kas kembali.
Apabila rangkaian tersebut semakin panjang maka kebutuhan modal kerja menjadi
semakin besar. Dengan demikian besar kecilnya modal kerja merupakan fungsi dari
beberapa faktor seperti:
1. Jenis produk yang dibuat
2. Jangka waktu siklus operasi
3. Tingkat penjualan, semakin tinggi tingkat penjualan maka kebutuhan investasi
pada persediaan juga akan semakin besar
4. Kebijakan persediaan
5. Kebijakan penjualan kredit Seberapa jauh efisiensi manajemen aktiva lancer
Kebutuhan dana perusahaan meliputi investasi aktiva lancar dan aktiva tetap. Aktiva
lancar itu sendiri dapat dibagi menjadi dua kategori: (1) aktiva lancar permanen dan (2)
aktiva lancar yang berfluktuasi. Fluktuasi aktiva lancar adalah dipengaruhi oleh faktor
musiman atau siklus permintaan. Sebagai contoh, perusahaan investasi persediaan
dalam jumlah besar pada masa puncak penjualan, sebaliknya akan pada masa-masa
sepi.
Terdapat tiga alternatif pemenuhan kebutuhan dana dalam kaitannya dengan aktiva
lancar: (1) matching approach, akan membiayai investasi aktiva tetap dan aktiva lancar
permanen dengan sumber dana jangka panjang, baik itu utang jangka panjang
maupun modal sendiri. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari risiko perusahaan
apabila sumber dana yang digunakan adalah sumber dana jangka pendek, maka pada
saat jatuh tempo perusahaan tidak dapat membayar kembali, (2) conservative
approach, akan membiayai investasi aktiva tetap dan aktiva lancar permanen serta
sebagian aktiva lancar yang berfluktuasi dengan utang jangka panjang atau modal
sendiri. Proporsi utang jangka pendek dengan demikian akan lebih kecil dibandingkan
dengan matching approach, dan (3) aggressive approach, adalah pendekatan dalam
pemenuhan kebutuhan dana dengan menggunakan proporsi utang jangka pendek
yang lebih besar, jika dibandingkan dengan pendekatan yang lain.
Penentuan Kebutuhan Modal Kerja
Terdapat beberapa metode yang biasa dipergunakan untuk menentukan
besarnya kebutuhan modal kerja seperti (1) metode keterikatan dana, (2) metode
perputaran modal kerja dan (3) metode aliran kas.
1. Metode keterikatan dana
2. Metode perputaran modal kerja
3. Metode perputaran modal kerja ini berbeda dengan metode keterikatan
dana, karena metode ini menentukan kebutuhan modal kerja dengan
memperhatikan perputaran elemen pembentuk modal kerja itu sendiri
seperti kas, piutang dan persediaan
1.4. Anjak Piutang (Factoring)
Anjak piutang dapat didefinisikan sebagai suatu kontrak di mana
perusahaan anjak piutang paling tidak menyediakan jasa-jasa pembiayaan, jasa
pembukuan (maintenance of accounts), jasa penagihan piutang dan jasa
perlindungan risiko kredit dan untuk itu klien berkewajiban kepada perusahaan
anjak piutang untuk menjual atau menjaminkan piutang yang berasal dari
penjualan produk. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kegiatan anjak
piutang meliputi antara lain:
1. Pembelian dan atau pengalihan piutang jangka pendek dari transaksi
perdagangan.
2. Administrasi penjualan kredit.
3. Penagihan piutang perusahaan klien.
Pihak-pihak yang Terlibat Dalam Anjak Piutang
Tiga partisipan utama dalam transaksi anjak piutang adalah 1. Perusahaan
anjak piutang atau factor adalah perusahaan yang menawarkan jasa anjak
piutang. 2. Klien adalah pihak yang menggunakan jasa perusahaan anjak
piutang. Sedangkan 3. nasabah adalah pihak-pihak yang mengadakan transaksi
dengan klien.
Jenis Anjak Piutang
Beberapa jenis anjak piutang yang biasanya ditawarkan oleh perusahaan anjak
piutang antara lain:
1. Fungsi service factoring, yaitu suatu bentuk jasa yang meliputi seluruh jenis
jasa anjak piutang baik yang beripa jasa pembiayaan maupun jasa
nonpembiayaan.
2. Recourse factoring, yaitu suatu bentuk pelayanan yang meliputi seluruh
bentuk jasa anjak piutang kecuali jasa perlindungan risiko kredit.
3. Bulk factoring, yaitu jasa anjak piutang hanya meliputi jasa pembiayaan dan
pemberian jatuh tempo tagihan kepada nasabah. Bentuk-bentuk jasa lainnya
seperti perlindungan risiko kredit, administrasi penjualan ataupun penagihan
tidak diperlukan.
4. Maturity factoring, yaitu suatu bentuk jasa anjak piutang di mana klien tidak
menerima pembayaran di muka dari perusahaan anjak piutang
5. Agency factoring, yaitu bentuk anjak piutang yang merupakan perluasan dari
bulk factoring, di mana terjadi penyerahan seluruh penjualan (piutang klien)
kepada perusahaan anjak piutang atas dasar notifikasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar